
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca di wilayah Jawa Tengah pada Minggu (18/10) mengalami perubahan signifikan. Setelah cuaca cerah hingga cerah berawan menyelimuti sebagian besar wilayah pada pagi hingga siang hari, hujan ringan berpeluang turun di sembilan daerah kawasan pegunungan, dataran tinggi bagian tengah, serta sebagian pantura pada sore hingga awal malam.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Farita Rachmawati, menyampaikan bahwa sembilan daerah yang berpotensi diguyur hujan ringan meliputi Purwokerto, Purbalingga, Banjarnegara, Blora, Batang, Kajen, Pemalang, Slawi, dan Bumiayu.
Di samping potensi hujan, fenomena suhu udara tinggi menyengat belasan wilayah di Jawa Tengah, terutama di kawasan Pantura dan Solo Raya, dengan suhu maksimum diprediksi mencapai 37 derajat celsius. Daerah-daerah tersebut mencakup Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen, Grobogan, Blora, Rembang, Pati, Jepara, Demak, Kendal, Batang, Surakarta, dan Semarang.
Secara umum, angin bertiup dari arah timur ke selatan dengan kecepatan berkisar antara 10 hingga 35 kilometer per jam. Potensi angin kencang hingga 35 kilometer per jam diimbau untuk diwaspadai warga di daerah Cilacap, Kebumen, Purworejo, dan Wonogiri karena dapat menimbulkan gangguan aktivitas. Rentang suhu udara di Jawa Tengah berada pada kisaran 16 hingga 37 derajat celsius dengan kelembapan udara antara 35 hingga 95 persen.
“Selain itu karena masih musim kemarau hingga banyak tanaman kering, warga juga tetap diminta waspada terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan,” kata Farita Rachmawati.
Sementara itu dari wilayah perairan, BMKG Stasiun Maritim Tanjung Emas Semarang memprakirakan cuaca di laut utara dan selatan Jawa Tengah cenderung cerah berawan sepanjang hari. Namun, potensi banjir pasang air laut (rob) masih mengancam kawasan pesisir utara dari Brebes hingga Rembang dengan ketinggian pasang maksimal mencapai 1 meter pada pukul 01.00 hingga 05.00 WIB.
Prakirawan BMKG Stasiun Maritim Tanjung Emas Semarang, Herbuana, menjelaskan bahwa naiknya air laut pasang berisiko mengganggu aktivitas masyarakat pesisir, mulai dari sektor transportasi, kegiatan bongkar muat barang di pelabuhan, budidaya perikanan darat, hingga usaha petani garam.
Terkait kondisi gelombang laut, BMKG mencatat ketinggian gelombang di perairan selatan Jawa Tengah berkisar antara 2,25 hingga 2,5 meter. Kondisi ini dinilai berisiko tinggi bagi aktivitas pelayaran kapal nelayan dan kapal tongkang, terutama saat kecepatan angin melebihi 15 knot. Sementara itu, ketinggian gelombang di perairan utara relatif lebih aman yakni berkisar 0,5 hingga 1,25 meter.
“Meskipun cukup aman untuk pelayaran, namun tetap diminta waspada saat kecepatan angin di perairan mengalami peningkatan dratis,” ujar Herbuana. (Z-2)
