Usai Revitalisasi, Menbud Resmikan Museum Keris Indonesia yang Hadirkan Beragam Keris
Ilustrasi(MI/Nike Amelia Sari)

KEMENTERIAN Kebudayaan merevitalisasi Museum Keris Indonesia di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, untuk memperkuat perannya sebagai ruang edukasi, pelestarian, penelitian, dan pemajuan budaya perkerisan Indonesia. Revitalisasi tersebut mencakup pembaruan tata pamer, penguatan narasi sejarah dan filosofi keris, pemanfaatan teknologi digital, hingga pengembangan fasilitas edukasi dan konservasi.

Perubahan nama dari Museum Pusaka menjadi Museum Keris Indonesia menegaskan fokus penyajian pada keris sebagai warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, teknologi, estetika, simbolik, dan filosofis. Penguatan ini juga menjadi upaya memperluas apresiasi masyarakat terhadap keris yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda, sekaligus mendorong keberlanjutan ekosistem budaya perkerisan Indonesia.

Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mengatakan perubahan nama dari Museum Pusaka menjadi Museum Keris Indonesia dilakukan untuk mempertegas identitas museum.

“Pusaka itu terlalu luas. Bukan hanya keris, bukan hanya tombak, bisa pisau, bisa segala macam. Bahkan tanah air kita pun adalah pusaka,” kata Fadli dalam sambutannya pada peresmian Museum Keris Indonesia di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Jumat (16/10).

“Revitalisasi tidak boleh berhenti hanya pembenahan fisik, bangunan dan fasilitas. Revitalisasi harus diikuti penguatan tata kelola, kurasi, riset, digitalisasi, narasi, serta penguatan akses terhadap pengetahuan,” jelasnya.

Usai direvitalisasi, penyajian museum kini dikembangkan melalui alur cerita yang terstruktur. Lantai pertama mengajak pengunjung mengenal pengertian dan sejarah keris, perkembangan budaya perkerisan, ragam bentuk atau dapur, teknologi seni tempa, serta pamor dan filosofi keris. 

Sementara itu, lantai kedua menampilkan keragaman keris dari berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Jawa, Madura, Bali, Lombok, Bima, Sulawesi, Kalimantan, hingga wilayah Melayu. Pengunjung juga diajak memahami fungsi keris dalam kehidupan spiritual, sosial, adat, identitas, dan sejarah persenjataan.

Pembaruan tata pamer dilakukan melalui penataan lemari dan penyangga koleksi, pencahayaan, serta penggunaan material besi dan kaca untuk memperkuat fokus pada artefak. Museum juga dilengkapi fasilitas multimedia dan ruang imersif untuk memperkaya pengalaman belajar, khususnya bagi generasi muda. Sekitar 200–300 keris dikurasi untuk ditampilkan dari total koleksi yang mencapai hampir 6.000 keris. Penguatan koleksi juga direncanakan melalui koordinasi peminjaman artefak pilihan dari Museum Nasional Indonesia. 

Selain memperbarui penyajian, revitalisasi memperluas fungsi museum melalui pengembangan studio penempaan, ruang konservasi, dan klinik keris. Fasilitas ini diarahkan untuk memperkenalkan teknik pembuatan keris, perawatan koleksi, serta konsultasi mengenai identitas dan karakteristik keris. Pengembangan layanan dokumentasi dan sertifikasi juga diarahkan melalui kerja sama dengan pihak yang memiliki kompetensi di bidang perkerisan.

Museum Keris Indonesia juga diharapkan menjadi ruang pertemuan bagi empu, perajin, seniman, peneliti, komunitas, lembaga pendidikan, dan masyarakat. Program edukasi, lokakarya, praktik penempaan, serta kegiatan budaya berkala berpotensi memperkuat pewarisan pengetahuan dan keterampilan perkerisan. Keterlibatan perajin dalam pengembangan suvenir atau merchandise juga membuka peluang untuk mendukung ekonomi budaya dan ekonomi kreatif.

Melalui revitalisasi ini, Museum Keris Indonesia diarahkan menjadi ruang budaya yang menghubungkan warisan masa lalu dengan pembelajaran masa kini dan masa depan. Keris tidak hanya dihadirkan sebagai benda koleksi, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan tentang sejarah, teknologi, estetika, filosofi, dan identitas masyarakat Indonesia. 

Sehingga museum diharapkan berperan aktif dalam merawat warisan budaya sekaligus memastikan pengetahuan dan keterampilan perkerisan terus dipelajari dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Fadli Zon juga berharap dengan kehadiran Museum Keris Indonesia dapat menambah jumlah pengunjung TMII termasuk generasi muda. “Saya mengajak mengunjungi museum, mengenal sejarah dan kekayaan budaya kita, serta turut mengambil bagian dalam merawat dan meneruskannya,” kata Fadli. (H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *