
PERDANA Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dijadwalkan bakal memimpin rapat kabinet khusus pada Senin pekan depan guna mengevaluasi dan menyelaraskan tawaran bantuan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kepada Indonesia. Langkah ini diambil menyusul eskalasi kebakaran yang kian meluas di sejumlah wilayah Indonesia hingga berdampak pada kualitas udara regional.
Rencana pengkajian ulang bantuan tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Pemerintah Malaysia yang juga Menteri Komunikasi Malaysia, Fahmi Fadzil, usai rapat kabinet di Putrajaya, Jumat (16/10).
Fahmi menjelaskan, penyesuaian bentuk bantuan dan pengiriman aset kini sangat diperlukan agar skema pemadaman yang disiapkan Malaysia sejak sebulan lalu tepat sasaran.
“Masalahnya, kebakaran telah meluas cukup jauh, sehingga bentuk bantuan dan aset apa pun yang telah kita tawarkan sejak sekitar sebulan lalu mungkin perlu dievaluasi kembali guna memastikan bantuan tersebut mencapai tujuannya,” kata Fahmi.
“Oleh karena itu, diskusi, tindak lanjut, akan dilakukan. Namun, sejauh ini belum ada informasi terperinci atau spesifik mengenai aset apa yang akan dikirimkan, sehingga pembahasan masih terus berlangsung,” tambahnya.
Hasil Pemeriksaan Konsesi Sawit di Indonesia
Selain membahas skema bantuan untuk Indonesia, rapat kabinet Malaysia turut memapar laporan dari Menteri Perladangan dan Komoditas Malaysia, Noraini Ahmad. Laporan tersebut memuat hasil audit dan recheck terhadap seluruh perusahaan perkebunan kelapa sawit milik Malaysia yang beroperasi di wilayah Indonesia.
Berdasarkan pemeriksaan tersebut, pemerintah Malaysia mengonfirmasi bahwa mayoritas titik pembakaran lahan berada di luar area konsesi milik perusahaan mereka.
“Kabinet membahas isu kabut asap yang berdampak pada rakyat Malaysia. Menteri Perladangan dan Komoditas Malaysia Noraini Ahmad telah menginformasikan pemeriksaan kembali perusahaan-perusahaan Malaysia yang mempunyai konsesi sawit, dan menunjukkan bahwa kebanyakan dari apa yang telah disaksikan, aktivitas pembakaran itu terjadi di luar konsesi sawit milik perusahaan Malaysia,” jelas Fahmi.
Kondisi Cuaca Kalimantan dan Kebakaran Merambat
Fahmi juga membeberkan bahwa krisis kabut asap ini dipicu oleh minimnya curah hujan di Pulau Kalimantan secara umum. Kondisi cuaca yang sangat kering memicu rembetan api dari luar area perkebunan.
Salah satu dampaknya dialami oleh anak perusahaan Malaysia, Genting Plantations, di Kalimantan. Meski lahannya ikut terbakar, Fahmi menegaskan sumber api bukan berasal dari dalam area perusahaan.
“Namun, apinya telah dipadamkan dan ukuran ladang itu adalah 5 hektare. Api tidak terjadi dari dalam, tetapi merambat dari luar,” ungkap Fahmi.
Pemerintah Malaysia memastikan bakal terus menjalin dialog intensif dengan jajaran manajemen perusahaan sawit Malaysia di Indonesia. Sementara itu, rincian teknis terkait bantuan pemadaman karhutla untuk Indonesia akan diputuskan secara final dalam rapat khusus kabinet bersama PM Anwar Ibrahim pekan depan. (Ant/E-4)
