
KEMASAN dan penjenamaan produk menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Produk berkualitas perlu didukung identitas merek, desain kemasan, serta strategi promosi yang tepat agar memiliki nilai jual lebih tinggi dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Strategi tersebut menjadi fokus Lokakarya Penjenamaan dan Promosi Produk Kreatif yang diselenggarakan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif melalui Direktorat Arsitektur dan Desain di ruang kreatif Braga 8 Kota Bandung pada Kamis (15/10).
Direktur Arsitektur dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif, Sabar Norma Megawati Panjaitan, menyatakan banyak pelaku UMKM di sektor kuliner, kriya, aksesori, sepatu, hingga fesyen telah menghasilkan produk berkualitas. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya didukung kemasan dan strategi promosi yang memadai.
“Tujuan utamanya adalah melakukan penjenamaan dan promosi supaya produk UMKM bisa naik kelas. Produk mereka sudah bagus, tetapi kemasannya belum terlalu menarik. Karena itu, kami mendatangkan pakar desain dan ekonomi untuk membedah kemasan tersebut, sekaligus memberikan pembinaan langsung agar usaha mereka tidak mandek,” tuturnya.
Mega menyebut,pendampingan diperlukan agar pelaku usaha tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga membangun identitas merek dan meningkatkan nilai tambah. Melalui lokakarya tersebut, peserta mendapatkan masukan langsung dari para ahli untuk memperbaiki desain kemasan dan memperkuat strategi pemasaran. Ia mencontohkan keberhasilan seorang penenun ulos di Medan yang mengalami peningkatan nilai jual setelah mendapatkan pendampingan desain dan pewarnaan. Sebelumnya, penenun tersebut bekerja sendiri dengan peralatan sederhana dan menjual produknya seharga Rp200.000.
“Setelah mendapat pembinaan, harga jual ulosnya meningkat menjadi Rp1 juta per produk. Perkembangan usaha itu juga memungkinkannya mempekerjakan hingga empat orang karyawan.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa penguatan desain dan penjenamaan dapat memberikan dampak nyata terhadap nilai ekonomi produk sekaligus membuka peluang penciptaan lapangan kerja,” paparnya.
Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Nuzrul Irwan mengapresiasi penyelenggaraan lokakarya tersebut. Kota Bandung memiliki potensi ekonomi kreatif yang besar dengan beragam subsektor yang dapat terus dikembangkan.
“Kami sangat mengapresiasi kementerian atas terselenggaranya acara ini. Perekonomian kreatif di Kota Bandung sungguh luar biasa dan lengkap. Kami juga mengingatkan pelaku usaha untuk memanfaatkan portal Patakomala sebagai wadah resmi. Terlebih, subsektor ekonomi kreatif kini telah mekar menjadi 21 subsektor,” ungkapnya.
Nuzrul berharap penguatan ekosistem ekonomi kreatif di Bandung dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas pelaku usaha, termasuk dalam membangun jejaring, memperluas pemasaran, dan meningkatkan kualitas produk.
“Pemilihan Braga 8 sebagai lokasi kegiatan juga menjadi bagian dari pendekatan untuk mendekatkan produk kreatif kepada masyarakat. Lokakarya tidak hanya digelar di ruang tertutup, tetapi memanfaatkan ruang publik yang memungkinkan pelaku UMKM memperkenalkan produk sekaligus berinteraksi langsung dengan calon konsumen,” tandasnya.
Sementara itu Direksi Braga 8, Arman Hermawan menambahkan, pihaknya mendukung upaya pemerintah dalam memperkuat daya saing UMKM. Braga 8 dikembangkan bukan sekadar sebagai pusat perbelanjaan, melainkan sebagai etalase kreativitas dan identitas Kota Bandung melalui konsep The House of Bandung.
“Karena konsepnya The House of Bandung, saya ingin menjadikan gedung ini sebagai etalase Kota Bandung. Jadi, orang-orang dari luar kota yang datang ke Bandung bisa melihat semuanya di sini,” bebernya.
Menurut Arman, gedung enam lantai ini dirancang untuk mengakomodasi beragam aktivitas. Lantai pertama memadukan area bersantai, kedai kopi, dan ruang acara seluas 800 meter persegi yang kerap digunakan untuk kegiatan berskala besar. Lantai kedua difungsikan sebagai area restoran, lantai ketiga menjadi ruang interaksi sosial, termasuk untuk bermain biliar, sedangkan lantai teratas disiapkan sebagai pusat olahraga.
Arman juga menyoroti ketersediaan fasilitas parkir untuk mendukung kenyamanan pengunjung. Menurut dia, Braga 8 memiliki gedung parkir sendiri dengan akses masuk melalui kawasan ruko Banceuy Permai.
“Banyak orang mengira parkir susah karena melihat area depan gedung. Padahal, kami memiliki gedung parkir sendiri yang akses masuknya sangat mudah melalui area ruko di Banceuy Permai. Hal ini akan terus kami sosialisasikan,” sambungnya.
Lokakarya yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB itu menghadirkan Akbar Moujahid sebagai pemateri utama. Sementara itu, Ella Meilani dan Donnie B. Wijaksana memberikan pendampingan langsung melalui sesi konsultasi desain bagi para peserta. Melalui kolaborasi pemerintah, praktisi, dan pengelola ruang kreatif, kegiatan tersebut diharapkan mampu membantu UMKM mengoptimalkan potensi produknya. Penguatan desain, kemasan, penjenamaan, dan promosi menjadi langkah strategis agar produk lokal memiliki nilai tambah, semakin kompetitif, serta mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang berkelanjutan. (E-2)
