
PENYEBARAN berita palsu atau hoaks di ruang digital menjadi tantangan bagi masyarakat dalam memilah informasi yang benar dan menyesatkan. Penguatan literasi digital hingga tingkat keluarga dipandang penting agar masyarakat tidak mudah terpengaruh manipulasi informasi dan ikut menyebarkannya tanpa verifikasi.
Upaya tersebut dilakukan Fakultas Psikologi Universitas Pancasila (UP) melalui kegiatan psikoedukasi bertajuk Cerdas Mencegah Fake News yang melibatkan 40 kader Dasawisma dari komunitas ibu-ibu PKK RW 05 Srengseng Sawah, Jakarta. Program pengabdian kepada masyarakat ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan peserta dalam mengenali berita palsu dan membangun kebiasaan memeriksa informasi sebelum membagikannya.
Kegiatan itu merupakan bagian dari Program Hibah Internal UP Skema Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Tahun 2026 melalui program berjudul Efektivitas Teknik Inokulasi dalam Mengurangi Kepercayaan terhadap Berita Palsu pada Komunitas Ibu PKK RW 05 Srengseng Sawah.
Ketua tim pelaksana Vinaya menjelaskan program tersebut berangkat dari analisis kebutuhan melalui wawancara awal dan diskusi kelompok terarah atau focus group discussion (FGD). Hasilnya menunjukkan para kader telah aktif menggunakan media digital dalam keseharian, tetapi kemampuan mengevaluasi kredibilitas informasi dan memverifikasi kebenaran berita masih perlu diperkuat.
Perbedaan usia dan pengalaman menggunakan teknologi juga memengaruhi cara seseorang menerima serta menilai informasi yang beredar. Karena itu, penguatan literasi digital tidak cukup hanya dengan mengenalkan teknologi, tetapi perlu disertai keterampilan berpikir kritis dan pemahaman mengenai cara informasi menyesatkan memengaruhi perilaku manusia.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai fenomena penyebaran hoaks, dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari, serta faktor psikologis yang membuat seseorang mudah memercayai informasi yang belum terbukti kebenarannya.
Program ini juga menggunakan pendekatan inokulasi psikologis (psychological inoculation), yakni metode pembelajaran yang membantu seseorang membangun ketahanan terhadap informasi menyesatkan dengan mengenali teknik manipulasi sejak awal.
Penerapannya dilakukan melalui permainan interaktif daring The Fake News Game: News Factory. Lewat permainan tersebut, peserta diajak mengenali strategi yang dapat membuat berita palsu terlihat meyakinkan. Pendekatan ini diharapkan membuat proses pembelajaran lebih menarik serta membantu peserta menerapkan pengetahuan dalam situasi sehari-hari.
Untuk mengevaluasi kegiatan, tim pelaksana memberikan tes awal (pre-test) sebelum penyampaian materi dan tes akhir (post-test) setelah seluruh sesi pembelajaran. Hasil kedua tes tersebut dapat digunakan untuk menilai perubahan pemahaman peserta setelah mengikuti intervensi.
Dekan Fakultas Psikologi Universitas Pancasila Prof Awaluddin Tjalla turut hadir dalam rangkaian kegiatan bersama Ketua RW 05 Srengseng Sawah Suteja. Dukungan berbagai pihak tersebut mencerminkan pentingnya kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat dalam memperkuat kemampuan menghadapi tantangan informasi digital.
Kegiatan ditutup dengan sesi Komitmen Agen Anti-Fake News. Para peserta diajak membiasakan diri memeriksa kebenaran informasi sebelum memercayai atau menyebarkannya, serta meneruskan pengetahuan tersebut kepada keluarga dan warga sekitar.
Melalui keterlibatan kader Dasawisma, program ini diharapkan dapat memperluas dampak edukasi hingga lingkungan keluarga dan masyarakat. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun budaya bermedia digital yang kritis, bijak, dan bertanggung jawab, sehingga penyebaran informasi palsu dapat dicegah mulai dari lingkungan terdekat.(H-2)
