
PANGERAN Harry mengungkapkan butuh waktu bertahun-tahun baginya untuk menyadari mendiang ibunya, Putri Diana, tentu menginginkannya hidup bahagia. Dalam program terbaru bertajuk Redefining Grief: Building Resilience Through Loss, Duke of Sussex berusia 42 tahun ini berkolaborasi dengan ahli neurosains Dr. Mary-Frances O’Connor untuk mengeksplorasi dampak kimiawi dari rasa duka terhadap otak dan tubuh melalui pengalaman pribadinya.
Episode MasterClass yang direkam di California ini dirilis menjelang Hari Kesehatan Mental Dunia pada 10 Oktober, di mana hasilnya didonasikan untuk dua lembaga amal anak-anak yatim piatu.
Pangeran Harry baru berusia 12 tahun ketika Putri Diana tewas secara tragis dalam kecelakaan mobil di Paris. Dalam keterangannya, Harry mengaku bahwa menekan rasa duka selama bertahun-tahun sempat memicu serangan kecemasan dan depresi. Selama ini, ia merasa takut memproses duka dan sembuh secara emosional justru akan memutuskan hubungan batin dengan mendiang ibunya.
“Saya menghabiskan waktu begitu lama dalam kondisi mati rasa secara emosional, sebagian besar karena saya merasa tidak setia dan bersalah atas kemungkinan untuk merasa bahagia dan gembira tanpa dirinya,” ungkap Harry. “Saya merasa harus bersedih dan harus mati rasa secara emosional untuk membuktikan kepadanya bahwa saya merindukannya.”
Namun, ketika mulai benar-benar memproses emosinya, Harry justru menemukan kenyataan yang sebaliknya.
“Apa yang saya temukan adalah bahwa dia sebenarnya hanya ingin saya bahagia,” jelasnya. “Dan itu adalah pergeseran mental yang sangat besar bagi saya. Hal itu membebaskan saya, dan memberi saya pandangan yang sama sekali berbeda tentang kehidupan.”
Harry kini menyalurkan emosi dari trauma masa lalunya menjadi dedikasi bagi keluarga dan berbagai aksi kemanusiaan. Ia menyadari bahwa kegiatan amal yang kini ditekuninya memiliki kemiripan besar dengan apa yang pernah dilakukan sang ibu.
“Semua yang saya lakukan, semua yang saya curahkan energi untuknya, saya berharap ibu saya akan bangga akan hal itu,” tuturnya. “Mencoba melanjutkan dan melindungi warisannya, apa yang tidak saya sadari adalah pekerjaan yang akhirnya saya pilih, atau pekerjaan yang akhirnya membuat saya tertarik dan terikat, sangat mirip dengan pekerjaan yang dia lakukan.”
Ia menambahkan ada tanggung jawab membawa kenangan orang tercinta sepanjang hidup. “Ada elemen membawa ibu saya dalam diri saya yang pada akhirnya memberi saya energi untuk pekerjaan yang saya lakukan.”
Sebagai bagian dari proses pemulihan emosional, terapis Harry menyarankan penggunaan aroma parfum mendiang ibunya untuk membuka kembali ingatan yang terpendam. Dr. O’Connor menjelaskan secara ilmiah aroma langsung merangsang bagian otak amygdala dan hippocampus. Bagi Harry, menyemprotkan parfum ibunya menjadi titik balik penting.
“Itu seperti terlempar ke waktu yang lain,” kenang Harry. “Itu membuka semua yang sebelumnya terkunci. Masih ada dinding di sana, dinding emosional dan mental yang saya bangun, di mana semua hal baik dan buruk ada di sisi lain dinding itu. Namun menyemprotkan aroma ibu saya hampir seperti merobohkan batu bata tertentu, sehingga saya bisa melihat menembusnya dan kenangan serta pengalaman tertentu bisa mulai merembes keluar.”
Kini, menjaga ingatan bahagia tentang ibunya membuat Harry tetap merasa terhubung erat, bahkan kerap merasakan kehadiran sang ibu dalam momen-momen harian tertentu.
“Banyak yang telah terjadi dalam hidup saya dalam enam tahun terakhir, dan dia muncul di momen-momen di mana sangat masuk akal bahwa dia muncul di momen-momen itu,” baginya. “Hal itu terkadang membuat saya tertawa terbahak-bahak karena seperti, ini bukan kebetulan. Tidak ada versi lain di mana ini adalah hal lain selain dirimu. Saya merasakannya sebagai sebuah energi. Dan itu juga visual. Itu adalah sebuah tanda. Dan itu sangat terhubung dengannya.” (People/Z-2)
