
CARA mudah menghindari kesulitan saat menyelesaikan soal matematika adalah dengan menyerahkannya kepada kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa pengguna cukup mengetik satu kata “jawaban?” untuk mendapatkan solusi secara instan dari chatbot.
Pintas tersebut memang terbukti ampuh selama alat bantu itu tersedia. Pengguna yang dibantu AI mencatatkan jumlah jawaban benar yang lebih banyak dibandingkan mereka yang menghitung sendiri secara manual. Namun, ketika peneliti menarik akses chatbot tersebut, keadaannya justru berbalik secara drastis. Pengguna yang tadinya bergantung pada AI mencatatkan akurasi yang lebih rendah dan cenderung lebih cepat menyerah saat menghadapi soal sendirian.
Penelitian ini dipimpin oleh Grace Liu dari Carnegie Mellon University bersama timnya dengan melibatkan 1.222 partisipan di Amerika Serikat. Para peserta dibagi secara acak untuk mengerjakan soal matematika pecahan dengan atau tanpa bantuan model AI GPT-5.
Pada tahap awal, kelompok yang dibantu AI dapat mengakses chatbot untuk menyelesaikan soal. Namun, pada tiga pertanyaan terakhir, akses chatbot dicabut dan seluruh peserta harus mengerjakan soal secara mandiri. Hasilnya, kelompok yang sejak awal berlatih tanpa AI justru mengungguli kelompok yang baru saja kehilangan akses chatbot. Partisipan yang terbiasa dibantu AI juga lebih sering memilih untuk mengabaikan soal (skip) tanpa mencoba menjawabnya.
Fenomena serupa juga ditemukan ketika tim peneliti menguji kemampuan pemahaman membaca (reading comprehension) menggunakan standar soal SAT. Dari 168 peserta, kelompok yang sebelumnya diberi bantuan AI hanya mampu menjawab 76% soal akhir dengan benar, sementara kelompok tanpa AI berhasil mencapai tingkat akurasi 89%. Kelompok yang terbiasa dibantu AI juga menunjukkan tingkat pelepasan diri (disengagement) yang lebih tinggi, seperti menekan tombol skip atau menjawab dalam waktu kurang dari lima detik.
Para penulis menduga bantuan cepat dari chatbot membuat tingkat kesabaran seseorang menurun. Begitu bantuan instan dihilangkan, proses berpikir mandiri terasa jauh lebih berat. Menyerahkan langkah-langkah rumit kepada AI dinilai menghilangkan kesempatan seseorang untuk memahami kapasitas berpikirnya sendiri.
Meskipun demikian, studi ini mencatat perbedaan dampak berdasarkan cara penggunaan AI. Partisipan yang menggunakan chatbot untuk meminta petunjuk (hints) atau penjelasan konsep mencatatkan kinerja yang jauh lebih baik (76% benar) dibandingkan mereka yang hanya meminta jawaban langsung (65% benar).
Peneliti kawakan sekaligus salah satu penulis studi dari University of California, Berkeley, Brian Christian, menekankan pentingnya pengembangan teknologi yang mendukung kemampuan manusia alih-alih menggantikannya.
“Kita perlu bekerja menuju masa depan di mana kemampuan manusia, sejauh mungkin, ditingkatkan dan bukannya digantikan,” tegas Christian.
Temuan yang dipublikasikan dalam Conference on Language Modeling 2026 ini menyimpulkan bahwa ujian sebenarnya dari efektivitas AI terjadi saat jendela obrolan ditutup. Alat AI terbaik tidak sekadar memberikan jawaban instan, melainkan membantu seseorang menemukan jawaban itu secara mandiri. (Earth/Z-2)
