Trump Klaim Taiwan Sepakati Beli 30 Persen Gas Alam Alaska
Presiden AS Donald Trump mengumumkan Taiwan sepakat membeli 30 persen hasil pipa gas alam Alaska selama 20 tahun dan berinvestasi senilai US$4,4 miliar.(White House)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan Taiwan telah menyetujui kesepakatan untuk membeli 30% dari total hasil produksi proyek pipa gas alam yang akan dibangun di Alaska. Pengumuman tersebut disampaikan Trump di hadapan pendukungnya saat menggelar rapat umum di Wasilla, Alaska.

Dalam pidatonya, Trump menegaskan kesepakatan jangka panjang ini menjadi jaminan utama bagi keberlanjutan dan keberhasilan proyek infrastruktur energi tersebut.

“Taiwan baru saja setuju untuk membeli 30% gas yang keluar dari pipa tersebut untuk 20 tahun ke depan,” ujar Trump.

Selain komitmen pembelian gas, Trump menyebut Taiwan juga akan menanamkan investasi senilai US$4,4 miliar ke dalam proyek tersebut. Langkah ini diambil di tengah upaya Taipei untuk mengamankan dukungan dari Washington seiring meningkatnya ketegangan politik dengan Tiongkok, yang hingga kini terus mengklaim pulau berpemerintahan mandiri itu sebagai wilayah kekuasaannya.

Taiwan sendiri tercatat mengimpor hampir seluruh kebutuhan energinya. Data resmi menunjukkan sekitar 38% pasokan gas alam Taiwan berasal dari Australia, 25% dari Qatar, dan kurang dari 10% diimpor dari Amerika Serikat.

Pejabat di Taiwan tidak segera memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi terkait pernyataan Trump. Kendati demikian, otoritas Taiwan sebelumnya telah menyatakan niat mereka untuk membeli gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dari Alaska.

Kementerian Urusan Ekonomi Taiwan menyatakan perusahaan energi milik negara, CPC Corporation, “akan mengadaan LNG dan mencari hak partisipasi investasi hulu untuk mengamankan pasokan energi masa depan yang stabil bagi Taiwan” pada Maret 2025.

Proyek pipa gas sepanjang 1.300 kilometer (800 mil) tersebut dirancang untuk mengangkut gas alam yang diekstraksi dari cadangan melimpah di utara Alaska menuju wilayah selatan. Di lokasi tujuan akhir tersebut, gas alam akan diolah dan diubah menjadi LNG.

Disokong oleh grup usaha asal AS, Glenfarne, serta pemerintah negara bagian Alaska, proyek ini masih harus mengatasi sejumlah hambatan teknis dan diperkirakan belum dapat beroperasi sebelum tahun 2030. Para pemimpin lokal di Alaska telah mendukung pembangunan pipa gas ini selama bertahun-tahun, namun tingginya biaya pembangunan serta keraguan atas kelayakan fisikal dan ekonomis sempat menghambat kemajuannya.

Setelah beroperasi penuh secara komersial, LNG yang dihasilkan akan diangkut menggunakan kapal tanker menuju pasar utamanya di Asia. Pengiriman tersebut menempuh perjalanan laut yang relatif singkat, yakni sekitar tujuh hingga sembilan hari melintasi Samudra Pasifik. (AFP/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *