
PERKEMBANGAN kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mendorong peningkatan kebutuhan pusat data dengan kapasitas komputasi dan konsumsi listrik yang lebih besar. Kondisi tersebut menempatkan kesiapan infrastruktur kelistrikan sebagai salah satu faktor penting dalam mempercepat pembangunan pusat data sekaligus menjaga keandalan operasionalnya.
Di Indonesia, kebutuhan tersebut semakin relevan seiring rencana ekspansi kapasitas pusat data nasional. Berdasarkan data yang dikutip dalam keterangan perusahaan, Bank Dunia memperkirakan kapasitas operasional pusat data Indonesia mencapai 456 megawatt (MW) pada akhir 2025, sedangkan pemerintah menargetkan kapasitas nasional sebesar 2.000 MW pada 2029.
Pertumbuhan kapasitas itu membutuhkan dukungan sistem distribusi listrik yang dapat dibangun dan dioperasikan secara lebih efisien. Salah satu pendekatan yang dikembangkan industri adalah penggunaan sistem kelistrikan modular yang telah dirakit dan diuji sebelum dikirim ke lokasi pembangunan.
Penyedia solusi kelistrikan dan energi terintegrasi Chint memperkenalkan teknologi tersebut melalui produk Power Pod dalam ajang Data Centre World Asia 2026 di Singapura.
Power Pod merupakan sistem kelistrikan modular yang menggabungkan sejumlah komponen utama dalam satu unit siap pasang. Dengan pendekatan ini, proses perakitan dan pengujian sebagian besar dilakukan di pabrik sehingga pekerjaan instalasi di lokasi proyek dapat dikurangi.
Strategic Segment Director Asia Pasifik Chint Paul Lee mengatakan, peningkatan kebutuhan komputasi AI membuat ketersediaan infrastruktur kelistrikan menjadi tantangan penting bagi pengembang pusat data. “Pasokan listrik kini menjadi tantangan terbesar dalam membangun infrastruktur AI,” ujar Paul dalam keterangannya, Selasa (13/10).
Menurutnya, operator pusat data membutuhkan sistem kelistrikan yang dapat dipasang dan dioperasikan tanpa harus melalui proses integrasi berbagai komponen secara terpisah di lokasi proyek.
“Operator tidak membutuhkan tumpukan komponen tambahan yang harus diintegrasikan, dipasangi kabel, dan diuji sebelum dioperasikan di lokasi. Mereka membutuhkan satu unit sistem kelistrikan yang telah divalidasi di pabrik agar dapat langsung dipasang dan diaktifkan,” katanya.
Pangkas waktu pemasangan
Chint mengklaim penggunaan Power Pod dapat mengurangi waktu pemasangan infrastruktur kelistrikan hingga 60% dibandingkan metode perakitan langsung di lokasi proyek. Setelah unit tiba di lokasi, pemasangan disebut dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu minggu.
Sistem tersebut dirancang dalam bentuk kontainer tertutup yang dapat ditempatkan di luar ruangan. Di dalamnya terdapat perangkat distribusi listrik atau switchgear, transformator, sistem proteksi sirkuit, serta fasilitas pendukung seperti pendingin, proteksi kebakaran, pencahayaan, dan keamanan.
Power Pod tersedia dalam konfigurasi kapasitas 500 kilowatt (kW) hingga 4.000 kW, sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan daya fasilitas pusat data.
Menurut perusahaan, sebagian besar peralatan utama diproduksi dan diuji secara internal. Setiap unit juga menjalani proses validasi sebelum dikirim ke lokasi proyek.
Pendekatan modular tersebut ditujukan untuk mengurangi pekerjaan instalasi di lapangan dan memperpendek waktu antara pengiriman peralatan hingga kesiapan sistem kelistrikan.
Efisiensi energi jadi perhatian
Selain Power Pod, Chint memperkenalkan teknologi Solid-State Transformer (SST) yang dikembangkan untuk mendukung sistem distribusi listrik berbasis arus searah atau direct current (DC). Teknologi tersebut berpotensi diterapkan pada pusat data yang menggunakan arsitektur kelistrikan arus searah tegangan tinggi (high-voltage direct current/HVDC).
Dengan mengurangi tahapan konversi daya dari jaringan listrik menuju perangkat komputasi, pendekatan tersebut berpotensi menekan kehilangan energi selama proses distribusi listrik.
Efisiensi energi menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan pusat data AI karena kebutuhan daya perangkat komputasi terus meningkat, terutama untuk pengoperasian server dengan kepadatan tinggi.
Di Indonesia, Chint telah beroperasi melalui PT Chint Indonesia sejak 2005 dan memasarkan berbagai perangkat kelistrikan untuk sektor industri maupun bangunan komersial.
Perusahaan juga pernah memasok perangkat untuk proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) off-grid bersama PT PLN (Persero), antara lain di Pulau Morotai berkapasitas 600 kilowatt-peak (kWp) dan Pulau Bunaken sebesar 335 kWp.
Melalui pengembangan teknologi kelistrikan modular, Chint membidik kebutuhan infrastruktur pusat data yang terus bertambah di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia.
Peningkatan kebutuhan komputasi AI diperkirakan akan terus mendorong pengembang pusat data mencari solusi kelistrikan yang mampu mempercepat pembangunan sekaligus mendukung efisiensi operasional. (E-1)
