
MALAYSIA perlu menggalang negara-negara ASEAN untuk memberikan tekanan diplomatik dan finansial kepada Indonesia terkait krisis kabut asap lintas batas yang terus berulang. Seruan itu disampaikan anggota parlemen Syed Saddiq Syed Abdul Rahman dalam sidang Dewan Rakyat, Selasa (13/10) petang.
Anggota parlemen Muar itu mengusulkan protes diplomatik bersama di tingkat regional, pembatasan pendanaan bagi perusahaan yang terkait dengan pembakaran terbuka, serta tekanan ekonomi melalui konsumen.
“Mereka (Indonesia) harus diperlakukan sebagai pihak yang dikucilkan di kawasan,” kata Syed Saddiq saat membahas Anggaran Malaysia 2027 di Dewan Rakyat.
Ia mengatakan protes diplomatik seharusnya dilakukan bersama oleh negara-negara ASEAN, bukan hanya Malaysia. Menurut dia, tekanan regional akan memiliki daya tawar yang lebih besar.
Syed Saddiq juga mendesak Malaysia dan Singapura menggunakan pengaruh finansial mereka untuk menghentikan pendanaan bagi perusahaan yang terlibat dalam praktik tebang dan bakar di Indonesia.
“Putus akses mereka. Hantam keuangan mereka,” ujarnya. Ia menegaskan, perusahaan yang terkait dengan praktik tersebut seharusnya tidak lagi memperoleh pembiayaan dari lembaga keuangan di kedua negara.
Ia juga mengusulkan agar konsumen Malaysia dikerahkan untuk memberikan tekanan ekonomi. Menurut Syed Saddiq, pemerintah tidak seharusnya menjadi satu-satunya pihak yang bertanggung jawab menangani krisis tersebut.
“Kita harus menggerakkan masyarakat Malaysia untuk memberikan tekanan finansial. Kita memiliki kekuatan dan daya beli untuk membuat perusahaan-perusahaan Indonesia memperhatikan hal ini.”
“Saya kira, dengan melakukan itu, kita bisa menyerang titik yang paling merugikan mereka,” katanya.
Syed Saddiq mengatakan Malaysia juga harus menindak perusahaan dalam negeri Malaysia jika terbukti terlibat dalam kegiatan yang berkontribusi terhadap kabut asap.
“Kita tidak boleh munafik. Jika perusahaan kita terlibat, jangan takut. Tindak juga perusahaan kita,” tegasnya.
Ia juga mengusulkan pembentukan undang-undang serupa dengan Transboundary Haze Pollution Act di Singapura untuk meminta pertanggungjawaban perusahaan atas pencemaran lintas batas.
Syed Saddiq memperingatkan bahwa krisis kabut asap tidak hanya berdampak terhadap kesehatan masyarakat dan sektor pariwisata, tetapi juga pendidikan, terutama ketika sekolah terpaksa ditutup.
Menurut dia, anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah terkena dampak yang lebih besar. Banyak di antara mereka tidak memiliki laptop, tablet, atau akses internet yang memadai untuk melanjutkan pembelajaran jarak jauh.
Kondisi tersebut berpotensi memperlebar kesenjangan pendidikan yang sudah ada. (New Straits Times/B-3)
