
Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam bisnis membutuhkan dukungan data yang terstruktur agar dapat membantu perusahaan mengambil keputusan secara lebih tepat. Mulai dari membaca perilaku konsumen hingga menentukan lokasi gerai baru, pengolahan data menjadi salah satu aspek yang diperhatikan pelaku usaha dalam menyusun strategi pertumbuhan.
Pentingnya pendekatan berbasis data tersebut disampaikan Founder dan CEO Kacamatamoo, Michael Oktowinadi, dalam sesi bertema Same Market, Different Outcome: The Power of Precision pada Indonesia Knowledge Forum (IKF) XV yang diselenggarakan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) di Jakarta, Selasa (13/10).
Michael mengatakan, Kacamatamoo memanfaatkan teknologi AI untuk membantu analisis laporan, riset pasar, pemilihan lokasi gerai, pemantauan kompetitor, hingga membaca percakapan konsumen di media sosial. Namun, menurut dia, pemanfaatan teknologi tersebut perlu didukung ketersediaan data pelanggan, persediaan, dan riwayat transaksi yang memadai.
“Yang penting sekarang, karena zaman AI, infrastruktur data harus siap. Data pelanggan disimpan, data stok disimpan, semua historisnya ada. Jadi pada saat kita menggunakan teknologi AI, sistemnya bisa belajar,” ujarnya.
Kacamatamoo mengembangkan pemanfaatan data seiring pertumbuhan bisnisnya dari penjualan daring menjadi jaringan toko fisik. Perusahaan yang didirikan pada akhir 2019 itu kini memiliki sekitar 100 gerai, menurut keterangan Michael.
Membaca Perubahan Perilaku Konsumen
Michael mengungkapkan, perubahan strategi bisnis dilakukan setelah penjualan daring mulai menunjukkan penurunan pada 2022, seiring aktivitas masyarakat kembali normal setelah pandemi dan toko-toko optik beroperasi kembali. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa konsumen produk kacamata masih membutuhkan pengalaman mencoba produk secara langsung serta pemeriksaan mata sebelum membeli.
“Dari situ kita sudah tahu, ternyata gaya konsumen berbelanja untuk industri kita itu tetap harus datang ke toko fisik dan harus ada pengecekan mata serta mencoba secara langsung,” ujarnya.
Berdasarkan pengamatan tersebut, Kacamatamoo membuka toko fisik pertamanya di Gading Serpong, Tangerang, pada 2022. Perusahaan memilih lokasi rumah toko atau ruko dengan konsep modern yang menyasar konsumen muda, alih-alih berfokus pada pusat perbelanjaan. Strategi tersebut diikuti ekspansi gerai. Michael mengatakan, jumlah toko Kacamatamoo mencapai 48 gerai pada 2024, dari satu gerai saat pertama kali membuka toko fisik pada 2022. Dalam periode yang sama, ia menyebut bisnis perusahaan tumbuh hingga delapan kali lipat.
Saat ini, jaringan Kacamatamoo masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Perusahaan juga telah mengembangkan bisnis ke Malaysia, termasuk membuka gerai di Johor Bahru, serta mulai memasuki pasar India. Vietnam menjadi salah satu negara yang dipertimbangkan untuk ekspansi berikutnya.
Michael menyebut, pengembangan bisnis tersebut bertumpu pada pemahaman terhadap kebutuhan konsumen, termasuk permintaan atas produk kacamata yang berkaitan dengan fesyen sekaligus layanan pemeriksaan penglihatan.
AI untuk Persediaan dan Pengembangan Gerai
Selain membaca perilaku konsumen, Kacamatamoo menggunakan data untuk mendukung pengelolaan persediaan di setiap cabang. Menurut Michael, kebutuhan stok ditentukan dengan mempertimbangkan riwayat penjualan masing-masing gerai dan dievaluasi secara berkala.
Perusahaan juga memanfaatkan social media listening untuk memantau respons konsumen terhadap merek dan produk. Informasi tersebut menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam memahami kebutuhan pasar dan menyusun strategi pemasaran.
Untuk mendukung pengelolaan bisnis di berbagai wilayah, Kacamatamoo mengembangkan sistem enterprise resource planning (ERP) terintegrasi. Michael mengatakan, pengembangan infrastruktur data yang lebih terintegrasi baru dilakukan secara intensif pada 2026, seiring meningkatnya kebutuhan operasional perusahaan.
Meski demikian, pemanfaatan AI tidak serta-merta menjamin ketepatan keputusan bisnis. Hasil analisis tetap bergantung pada kualitas dan kelengkapan data, serta kemampuan perusahaan menerjemahkannya menjadi langkah yang sesuai dengan kondisi pasar.
Ke depan, Kacamatamoo berencana mengintegrasikan layanan optik, terapi penglihatan, dan layanan medis mata dalam satu fasilitas. Perusahaan juga mempertimbangkan pemanfaatan AI untuk mendukung analisis hasil pemeriksaan mata. Michael menegaskan, rencana tersebut masih menjadi bagian dari pengembangan perusahaan.
“Kesempatan pasti datang banyak sekali. Tapi saya tetap ingin fokus di industri ini, tidak ke mana-mana. Semua berhubungan dengan mata, vision care. Fokus saja,” pungkas Michael. (E-3)
