
Endometriosis bukan sekadar nyeri haid. Nyeri haid yang sangat berat hingga mengganggu aktivitas, nyeri panggul yang berulang, nyeri saat berhubungan seksual, atau keluhan saat buang air besar maupun buang air kecil saat menstruasi merupakan beberapa gejala yang dapat dialami oleh pasien dengan endometriosis.
Pada sebagian perempuan, kondisi ini juga dapat berkaitan dengan kesulitan untuk hamil. Gejalanya dapat berbeda pada setiap pasien. Karena itu, diperlukan evaluasi yang menyeluruh untuk memahami kondisi masing-masing pasien dan menentukan penanganan yang sesuai dengan kebutuhan klinisnya.
Melihat kompleksitas tersebut, RS Bunda Jakarta milik PT Bundamedik Tbk (IDX: BMHS) menghadirkan layanan endometriosis dengan pendekatan multidisiplin yang melibatkan berbagai bidang keahlian.
Kolaborasi ini memungkinkan kondisi pasien dievaluasi dari berbagai aspek sehingga rencana tata laksana dapat disusun secara lebih terintegrasi sesuai dengan kebutuhan klinis masing-masing pasien.
Layanan ini melibatkan dokter spesialis obstetri dan ginekologi RS Bunda Jakarta, Kanadi Sumapraja, dan Sita Ayu Arumi bersama tim lintas bidang yang mencakup Obstetri dan Ginekologi, Radiologi, Pain Intervention, Gizi, Digestif, Urologi, dan Fertilitas.
Kolaborasi antarbidang ini membantu memberikan gambaran kondisi pasien secara lebih menyeluruh serta mendukung penyusunan rencana penanganan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing pasien.
Nyeri haid berat dan nyeri panggul yang berulang merupakan salah satu keluhan yang perlu mendapat perhatian, terutama bila disertai gejala lain yang berkaitan dengan siklus menstruasi. RS Bunda Jakarta berkomitmen untuk senantiasa mengimbau masyarakat untuk berkonsultasi dengan dokter dan tenaga medis agar kondisi dapat dievaluasi secara tepat dan penanganan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasien.
Penanganan Endometriosis
Penanganan endometriosis diawali dengan pemeriksaan oleh dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi, meliputi keluhan pasien, riwayat menstruasi, nyeri, rencana kehamilan, serta pemeriksaan penunjang yang diperlukan. USG ginekologi dan, bila dibutuhkan, MRI pelvis dapat membantu memetakan lokasi dan luas penyakit. Hasil pemeriksaan menjadi dasar penyusunan rencana tata laksana yang disesuaikan dengan kondisi dan tujuan masing-masing pasien.
Dalam prosesnya, tim Pain Intervention dapat dilibatkan bagi pasien dengan nyeri menetap atau kompleks untuk membantu mengendalikan nyeri dan mendukung kualitas hidup. Dukungan ahli gizi juga dapat diberikan sesuai kebutuhan pasien.
Respons terhadap terapi kemudian dipantau secara berkala, termasuk perubahan nyeri, fungsi, kualitas hidup, toleransi terapi, dan tujuan reproduksi.
Apabila terapi belum memberikan hasil yang optimal atau terdapat kondisi yang memerlukan tindakan, pilihan bedah dapat dipertimbangkan secara individual. Pada kasus deep endometriosis yang melibatkan usus atau saluran kemih, penanganan dapat melibatkan tim Digestif/bedah kolorektal dan Urologi. Sementara bagi pasien dengan pertimbangan reproduksi, tim Fertilitas dapat dilibatkan dalam perencanaan penanganan sesuai tujuan pasien.
Keterlibatan dokter Digestif dapat diperlukan ketika terdapat keluhan atau dugaan keterlibatan saluran cerna. Begitu pula dokter Urologi dapat dilibatkan apabila terdapat keluhan atau kecurigaan keterlibatan saluran kemih.
“Endometriosis memiliki spektrum gejala dan kondisi yang beragam. Karena itu, penanganannya tidak selalu dapat dilakukan dari satu bidang keahlian saja. Kolaborasi lintas bidang memungkinkan kami melihat kondisi pasien secara lebih menyeluruh dan menentukan tata laksana yang sesuai dengan kebutuhan klinisnya,” ujar Kanadi Sumapraja, dikutip Selasa, (13/10).
Bagi pasien yang sedang merencanakan kehamilan, aspek fertilitas juga menjadi bagian penting yang perlu dibicarakan sejak awal. Tim Fertilitas dapat membantu menilai kondisi reproduksi dan menyusun pilihan penanganan yang sejalan dengan tujuan pasien.
“Setiap pasien memiliki kondisi dan tujuan yang berbeda, termasuk dalam hal rencana kehamilan. Karena itu, pilihan penanganan perlu dibicarakan bersama pasien dengan mempertimbangkan gejala, hasil pemeriksaan, kondisi reproduksi, serta tujuan yang ingin dicapai,” ujar Sita Ayu Arumi.
Pendekatan ini menempatkan pasien sebagai pusat perencanaan. Setiap keputusan tata laksana disusun berdasarkan gejala, temuan pemeriksaan, kondisi organ yang terlibat, risiko, serta preferensi dan tujuan pasien.
Endometriosis membutuhkan penanganan yang dapat mengikuti kompleksitas dan kebutuhan setiap pasien. Melalui kolaborasi lintas keahlian, RS Bunda Jakarta terus memperkuat layanan yang terintegrasi agar pasien dapat memperoleh akses terhadap berbagai bidang keahlian dalam satu rangkaian penanganan yang terkoordinasi.
“Bagi kami, pengembangan layanan endometriosis bukan hanya tentang menghadirkan keahlian medis, tetapi juga memastikan pasien mendapatkan pengalaman perawatan yang terintegrasi dan berorientasi pada kebutuhan pasien. Kolaborasi lintas bidang menjadi bagian dari upaya kami untuk menghadirkan layanan yang semakin komprehensif dan relevan bagi pasien,” ujar Chief Operating Officer One Menteng, Elizabeth.
Melalui layanan ini, RS Bunda Jakarta berkomitmen untuk terus mengembangkan ekosistem layanan kesehatan yang mengutamakan kolaborasi antarspesialis, kesinambungan perawatan, serta kebutuhan dan tujuan pasien sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan. (E-2)
