Strategi Mitigasi Karhutla: Fokus pada Pencegahan dan Tata Air Gambut
Foto udara personel Manggala Agni Daops Sum XIII-Sarolangun berusaha memadamkan kebakaran lahan gambut di Desa Riding, Pangkalan Lampam, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, Selasa (6/10/2026).(ANTARA/Nova Wahyudi)

KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang di Indonesia memerlukan pergeseran paradigma penanganan. Fokus utama kini tidak boleh lagi hanya pada pemadaman saat api sudah membesar, melainkan pada upaya pencegahan sejak dini melalui pendekatan berbasis sains dan penguatan tata air ekosistem gambut.

Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) sekaligus dosen Magister Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (UI), Daryono, menjelaskan bahwa karhutla adalah persoalan kompleks. Fenomena ini lahir dari interaksi antara faktor iklim, aktivitas manusia, dan kondisi ekosistem yang rentan.

“Karhutla merupakan hasil interaksi antara bahaya, kerentanan lingkungan, dan aktivitas manusia. Selama sumber kerentanan dan faktor pemicu belum dikendalikan secara konsisten, kebakaran berpotensi terus berulang,” ujar Daryono dalam keterangannya, Selasa (13/10/2026).

Tiga Faktor Pemicu Utama

Menurut Daryono, terdapat tiga pilar utama yang memengaruhi terjadinya karhutla. Meskipun kekeringan akibat El Nino menurunkan kelembapan vegetasi, hal tersebut tidak serta-merta memicu api tanpa adanya faktor penyulut dari aktivitas manusia, baik yang disengaja melalui pembukaan lahan maupun kelalaian.







Faktor Utama Deskripsi Pengaruh
Iklim & Cuaca Kekeringan berkepanjangan (El Nino) menurunkan kelembapan tanah dan vegetasi.
Aktivitas Manusia Pembukaan lahan, kelalaian, dan sumber penyulutan api lainnya.
Kerentanan Ekosistem Kondisi hidrologis gambut yang terganggu (mengering) sangat mudah terbakar.

Karakteristik Kebakaran Gambut

Lahan gambut menjadi perhatian khusus karena sifatnya yang unik. Ketika mengering, gambut dapat mengalami smouldering combustion atau pembakaran membara di bawah permukaan tanah tanpa nyala api yang terlihat jelas. Hal ini membuat api sulit dideteksi secara visual dan berisiko muncul kembali meski permukaan tampak sudah padam.

“Prinsip terpenting dalam mitigasi kebakaran gambut adalah mempertahankan kondisi hidrologis gambut agar tetap basah,” tegas Daryono. Ia menambahkan bahwa pemadaman di area ini memerlukan pembasahan total dan pemantauan bawah permukaan yang intensif.

Optimalisasi Deteksi dan Respons

Daryono menilai efektivitas penanganan karhutla harus diukur dari tiga aspek krusial: kecepatan deteksi, kecepatan respons, dan keberhasilan pencegahan. Penggunaan satelit untuk memantau titik panas (hotspot) harus segera diikuti dengan verifikasi lapangan karena hotspot hanyalah indikasi awal anomali panas.

Langkah Darurat & Jangka Panjang:

  • Darurat: Verifikasi cepat titik panas, patroli terpadu, mobilisasi personel, dan pemantauan kualitas udara (PM2.5).
  • Jangka Panjang: Pemulihan tata air gambut, pengelolaan lahan tanpa bakar (PLTB), penegakan hukum berbasis bukti, dan kolaborasi lintas sektor (Pentahelix).

Dampak Asap Lintas Negara

Selain kerusakan ekologi lokal, karhutla berdampak pada polusi asap lintas negara. Penyebaran asap ini sangat bergantung pada kondisi meteorologi seperti arah angin dan stabilitas atmosfer. Daryono menekankan bahwa identifikasi sumber asap harus menggunakan analisis data ilmiah, bukan sekadar asumsi wilayah terdampak.

Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan komunikasi terbuka dan kerja sama regional melalui mekanisme ASEAN. Di sisi lain, evaluasi keberhasilan pengendalian karhutla tidak boleh hanya terpaku pada luas lahan yang terbakar, tetapi juga harus mempertimbangkan tingkat kekeringan dan kecepatan penanganan operasional.

“Karhutla harus ditangani sebelum api muncul, bukan hanya setelah asap meluas,” pungkasnya. (Z-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *