
PEMILIHAN material bangunan yang tangguh terhadap iklim tropis dan risiko gempa menjadi faktor kunci efisiensi anggaran negara. Konsultan manajemen konstruksi menilai, ketepatan spesifikasi bahan menentukan apakah investasi fisik fasilitas pendidikan mampu bertahan sesuai umur rencananya.
Sejak November 2025, pemerintah membangun 93 titik Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia. Setiap titik terdiri atas 22–24 massa bangunan guna menampung sekitar 1.260 siswa tingkat SD, SMP, dan SMA. Di tengah skala proyek yang masif tersebut, mutu material menjadi pembeda antara bangunan yang berdaya tahan panjang dan yang berpotensi menjadi beban perbaikan di masa depan.
Team Leader Manajemen Konstruksi Sekolah Rakyat Provinsi Sulawesi Selatan 2, M. Sony Hartaman, mengungkapkan bahwa banyak fasilitas pendidikan di Indonesia rusak sebelum waktunya akibat penggunaan material yang tidak responsif terhadap cuaca. Selain itu, kerap terjadi penataan ulang spesifikasi (penurunan standar) saat pelaksanaan di lapangan. Padahal, gedung negara umumnya dirancang dengan umur struktur hingga 50 tahun.
“Standar kita sebenarnya sudah lengkap melalui SNI. Jika ada yang belum diatur, kita mengacu pada standar internasional. Apabila perencanaan benar dan dilaksanakan sesuai spesifikasi, tidak ada alasan bangunan gagal sebelum mencapai umur rencananya,” ujar Sony.
KEUNGGULAN MATERIAL
Salah satu penerapan material krusial terdapat pada komponen atap. Sony memilih atap bitumen (aspal) untuk delapan titik Sekolah Rakyat yang diawasinya di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat. Meski biaya investasi awalnya relatif lebih tinggi ketimbang jenis atap tertentu, perhitungan usia ekonomis menunjukkan bitumen justru jauh lebih efisien.
“Atap murah yang cepat rusak pada akhirnya menuntut penggantian total. Jika dihitung berdasarkan usia ekonomis, bitumen jauh lebih hemat,” terangnya.
Selain durabilitas, keunggulan bitumen terletak pada bobotnya yang ringan. Atap merupakan beban mati yang berdampak langsung pada kebutuhan struktur hingga fondasi. Sony memperkirakan atap konvensional seperti genteng tanah liat memiliki bobot 10 hingga 15 kali lebih berat ketimbang bitumen.
Penggunaan bitumen cukup ditopang oleh rangka baja ringan, sedangkan atap berat memerlukan struktur baja konvensional yang berbiaya lebih mahal. “Hampir seluruh perencana saat ini beralih ke atap berbobot ringan. Selain lebih tahan lama, beban yang ditanggung struktur gedung jauh lebih kecil,” tambah Sony.
ADAPTASI WILAYAH DAN TKDN
Guna mendukung kelanjutan pembangunan Sekolah Rakyat, pemerintah menyiapkan tiga opsi spesifikasi atap yang disesuaikan dengan kondisi geografis dan iklim wilayah setempat, yakni genteng tanah liat, bitumen, serta unplasticized polyvinyl chloride (uPVC).
Di luar Pulau Jawa, seperti kawasan Sulawesi, penerapan genteng tanah liat terkendala minimnya ketersediaan pabrik lokal. Bitumen menjadi solusi ideal karena bentuk visilnya menyerupai genteng, sehingga tetap selaras dengan program gentengisasi nasional.
Di samping aspek teknis, pemenuhan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) turut menjadi prioritas. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mewajibkan capaian TKDN minimal 45% untuk fasilitas pendidikan. Pada wilayah kerja Sony, capaian TKDN bahkan menyentuh 47%, dengan kontribusi dari penggunaan atap bitumen produksi domestik.
Pada desain awalnya, Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menegaskan bahwa sebanyak 104 lokasi Sekolah Rakyat sejak awal direncanakan memakai genteng.
Pemerintah pusat menggalakkan program ‘gentengisasi’ didukung oleh Presiden Prabowo Subianto untuk mengganti atap seng dengan genteng.
Alasan penggunaan genteng karena genteng membuat ruangan kelas lebih sejuk dan teduh dibandingkan seng atau asbes yang cepat panas; faktor estetika dan kerapian lingkungan sekolah yang lebih baik; serta mendukung penggunaan produk dalam negeri dan material lokal. (H-1)
