Pentingnya Self-Boundaries Saat Menjadi Tempat Curhat Menurut Psikolog
Ilustrasi(magnific)

MENJADI pendengar yang baik bagi orang lain merupakan bentuk kepedulian yang sangat berarti. Namun, memberikan dukungan emosional bukan berarti harus mengabaikan kapasitas diri sendiri. Psikolog klinis anak dan remaja, Ocha Ananda Suherik, M.Psi., Psikolog, menekankan pentingnya menerapkan self-boundaries atau batasan diri dalam proses tersebut.

Menurut Ocha, batasan diri sangat krusial untuk mengenali sejauh mana kemampuan, waktu, energi emosional, hingga tanggung jawab seseorang saat mendukung orang lain. Hal ini bertujuan agar pemberi dukungan tidak merasa kewalahan atau kehilangan keseimbangan mentalnya sendiri.

“Self-boundaries membantu kita untuk mengenali batas kemampuan, waktu, energi emosional, dan tanggung jawab kita ketika mendukung orang lain,” ujar Ocha dalam keterangan di Jakarta, dikutip Senin (12/10).

Mengenali Batas Peran dan Kapasitas

Psikolog yang tergabung dalam Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) ini menjelaskan bahwa salah satu bentuk batasan diri adalah memahami peran. Sebagai teman atau anggota keluarga, seseorang memang bisa menjadi sumber dukungan, namun tidak perlu memaksakan diri mengambil alih peran profesional seperti psikolog atau psikiater.

Selain itu, kesadaran akan kapasitas emosional diri sebelum membantu orang lain juga sangat diperlukan. Jika energi sedang tidak memadai atau isu yang diceritakan dirasa terlalu berat, Ocha menyarankan untuk berkomunikasi secara jujur namun tetap empatik.

“Komunikasikan batasan secara jelas dan empatik. Dapat pula menawarkan bantuan yang masih sesuai dengan kapasitas diri kita,” tambahnya.

Etika Merespons Curhatan

Saat seseorang mulai terbuka mengenai masalahnya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyadari bahwa bercerita bukanlah hal yang mudah. Seringkali, orang tersebut membutuhkan waktu lama sebelum akhirnya berani berbagi.

Berikut adalah beberapa panduan praktis dalam merespons keluh kesah orang lain berdasarkan penjelasan Ocha Ananda Suherik:








Langkah Tindakan yang Disarankan
Mendengarkan Aktif Dengarkan tanpa menghakimi dan jangan terburu-buru memberikan solusi.
Memberi Ruang Biarkan mereka bercerita sesuai kesiapan dan kecepatannya sendiri.
Validasi Emosi Akui bahwa perasaan mereka nyata dan layak dipahami tanpa harus membenarkan perilaku salah.
Menjaga Privasi Jaga kepercayaan dan jangan membandingkan masalah mereka dengan masalah orang lain.

Validasi Bukan Berarti Membenarkan Perilaku

Lulusan Universitas Indonesia ini juga memberikan catatan penting mengenai validasi emosi. Menurutnya, memvalidasi perasaan seseorang berbeda dengan membenarkan seluruh pemikiran atau tindakannya.

Sebagai contoh, kita bisa memahami bahwa seseorang merasa sangat marah, namun tetap tidak membenarkan jika kemarahan tersebut diluapkan dengan cara menyakiti orang lain. Dengan cara ini, pendengar tetap bisa menunjukkan empati yang mendalam sekaligus mempertahankan batasan yang sehat.

“Tanyakan bantuan seperti apa yang ia butuhkan. Hindari membandingkan atau mengecilkan masalahnya. Jaga kepercayaan dan privasinya,” tutup Ocha. (Ant/Z-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *