Pengamat UI Dorong Indonesia Buka Dialog dengan Iran dan Arab Saudi untuk Lindungi WNI
Kelompok perlawanan Houthi di Yaman.(Anadolu)

PENGAMAT Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Suzie Sudarman, mendorong pemerintah Indonesia segera membuka komunikasi diplomatik dengan Iran dan Arab Saudi menyusul serangan kelompok Houthi dari Yaman yang menargetkan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi.

Menurut Suzie, langkah diplomatik tersebut diperlukan untuk membantu meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah sekaligus menjamin keselamatan warga negara Indonesia (WNI), khususnya mereka yang berada di Arab Saudi.

Suzie mengatakan Menteri Luar Negeri Iran telah menyatakan kesiapan negaranya untuk membantu memfasilitasi dialog antara Arab Saudi dan Yaman. Menurut dia, peluang tersebut perlu dimanfaatkan Indonesia untuk mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.

“Ada baiknya juga demi rakyat Indonesia di Timur Tengah khususnya di Saudi, RI segera melalui para diplomat kita di Kemenlu segera membuka dialog juga dengan Iran dan Saudi Arabia,” kata Suzie dihubungi Media Indonesia, Senin (12/10).

Ia menilai Indonesia memiliki kepentingan untuk berperan aktif dalam upaya perdamaian kawasan, mengingat besarnya jumlah penduduk Muslim di Tanah Air serta keberadaan WNI di negara-negara Timur Tengah.

“Sebagai negara dengan jumlah Muslim terbesar Indonesia seyogyanya turut aktif mengupayakan perdamaian kawasan dan menyelamatkan rakyat Indonesia secara diplomatis,” ujarnya.

Selain mendorong dialog antarpihak yang berkonflik, Suzie juga mengusulkan langkah antisipasi untuk melindungi warga Indonesia yang berada di Arab Saudi. Salah satunya dengan mempertimbangkan evakuasi sementara ke negara yang lebih aman sebelum mereka dipulangkan ke Indonesia.

“Juga bisa diupayakan agar para pengunjung dan yang tinggal di Saudi segera evakuasi ke negara yang lebih aman untuk segera pulang ke Indonesia dari negara tempat evakuasi,” paparnya. 

Hubungan Indonesia dengan Iran

Dalam pandangannya, Suzie turut menyoroti hubungan Indonesia dengan Iran di tengah dinamika geopolitik internasional. 

Ia menilai Indonesia berisiko kehilangan salah satu unsur penting dalam menjaga keseimbangan hubungan dengan berbagai kekuatan global apabila hubungan dengan Iran tidak dimanfaatkan secara optimal.

Suzie mengkritik pendekatan politik luar negeri Presiden Prabowo Subianto yang menurutnya menjauhkan Indonesia dari Iran demi mendekatkan diri kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

“Iran adalah sahabat yang ditinggalkan Prabowo demi Trump akhirnya tidak dapat apa-apa, kan mana bisa andalkan adi kuasa kawan baik disepelekan,” lanjut Suzie.

Ia juga menilai Iran tetap menjadi salah satu kekuatan penting dalam percaturan geopolitik internasional. Dalam pernyataannya, Suzie menyebut Iran sebagai kekuatan nomor empat setelah Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok. 

“Iran itu kekuatan nomor 4 setelah AS, Rusia, Tiongkok ya Iran,” ucapnya. 

Lebih lanjut, Suzie menilai Indonesia telah kehilangan sebagian dimensi strategis dalam menjaga keseimbangan hubungan internasional, khususnya melalui kemitraan dengan negara-negara yang tergabung dalam Gerakan Non-Blok (NAM) dan semangat Konferensi Asia-Afrika.

“Indonesia kehilangan dimensi perimbangan yang baik dengan sahabat-sahabat NAM dan Konferensi Asia Afrika,” ujarnya.

Menurut Suzie, penguatan kembali hubungan diplomatik dengan berbagai negara, termasuk Iran dan Arab Saudi, dapat menjadi bagian dari upaya Indonesia untuk berkontribusi dalam meredakan konflik regional sekaligus melindungi kepentingan nasional dan keselamatan WNI di Timur Tengah. (Fer/I-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *