
PLAN Indonesia mendorong keterlibatan anak perempuan dalam pengambilan keputusan melalui program Girls Takeover. Selama satu dekade, program ini telah memberi kesempatan kepada anak perempuan untuk mengambil alih tujuh posisi menteri dan lebih dari 40 posisi strategis di berbagai lembaga, termasuk MRT Jakarta dan kedutaan besar.
Sejak dilaksanakan pada 2016, Girls Takeover menjadi ruang bagi anak perempuan untuk menyampaikan gagasan dan aspirasi terkait persoalan yang memengaruhi kehidupan mereka. Program ini memberikan pengalaman langsung tentang kepemimpinan dan proses pengambilan keputusan.
Direktur Eksekutif Plan Indonesia Dini Widiastuti mengatakan, keterlibatan anak perempuan dalam ruang kepemimpinan tidak boleh berhenti pada pengalaman selama satu hari. Suara dan perspektif mereka harus menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan.
“Girls Takeover lebih dari sekadar anak perempuan menggantikan seorang pemimpin selama satu hari. Yang jauh lebih penting adalah apa yang terjadi ketika suara mereka didengar, perspektif mereka dipertimbangkan, dan mereka mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kapasitas kepemimpinannya,” kata Dini di Jakarta Selatan, Minggu (11/10).
Menurut Dini, tantangan berikutnya ialah memastikan anak perempuan terus mendapat kesempatan untuk memimpin dan mendorong perubahan. Upaya itu harus disertai perlindungan dari kekerasan dan perkawinan anak, akses pendidikan, serta layanan yang mendukung perkembangan mereka.
Tantangan tersebut masih besar. Data Susenas Badan Pusat Statistik (BPS) 2018 menunjukkan anak perempuan dari keluarga dengan tingkat pengeluaran terendah hampir tiga kali lebih berisiko menikah sebelum usia 18 tahun dibandingkan mereka dari keluarga dengan tingkat pengeluaran tertinggi. Risiko perkawinan anak di perdesaan juga dua kali lebih besar dibandingkan di perkotaan.
Tekanan perubahan iklim turut memperburuk kondisi anak perempuan. Laporan global Plan International 2026 menyebutkan 90% anak perempuan dan perempuan muda yang disurvei menilai peristiwa iklim memberikan tekanan serius terhadap kehidupan, kesehatan, dan stabilitas rumah tangga mereka.
Di komunitas terdampak kekeringan, 60% responden melihat peningkatan perkawinan anak. Sementara, Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta (Perseroda) Weni Maulina mengatakan, keterlibatan anak perempuan memberi kesempatan bagi institusi untuk memahami kebutuhan masyarakat dari perspektif generasi muda.
“Bagi MRT Jakarta, Girls Takeover menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana perspektif kaum muda, termasuk perempuan, dapat memperkaya cara kami memahami kebutuhan dan pengalaman masyarakat,” ujar Weni.
Pengalaman mengikuti Girls Takeover juga berdampak pada perjalanan peserta setelah program berakhir. Belinda, peserta Girls Takeover MRT Jakarta 2023, mengatakan pengalaman tersebut membuatnya lebih berani menyampaikan pendapat dan mencari peluang pendidikan. Ia kemudian memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi di Singapura.
“Girls Takeover membuat saya menyadari bahwa saya juga punya hak untuk berada di ruang-ruang pengambilan keputusan. Setelah pengalaman itu, saya menjadi lebih berani untuk menyampaikan pendapat dan mencari kesempatan untuk terus belajar,” kata Belinda.
Pengalaman serupa dirasakan Mala, peserta yang mengambil alih posisi Menteri BUMN pada 2021. Menurut dia, program tersebut mengajarkan pentingnya keberanian menyampaikan gagasan dan terlibat dalam perubahan.
“Pengalaman tersebut membuat saya semakin percaya bahwa anak perempuan perlu diberi kesempatan untuk terlibat dan menjadi bagian dari prosesnya,” ujar Mala.
Peringatan satu dekade Girls Takeover juga ditandai dengan pameran foto bertajuk 10 Years of Girls Takeover. Berkolaborasi dengan Taman Literasi Martha Christina Tiahahu yang dikelola PT Integrasi Transit Jakarta, pameran ini mendokumentasikan perjalanan program sejak 2016. Pameran dibuka untuk umum secara gratis pada 11 Oktober 2026 di koridor depan Perpustakaan Heka Leka, Taman Literasi Martha Christina Tiahahu. (E-4)
