
PERKUMPULAN Besar Padel Indonesia (PBPI) Wilayah Jakarta Barat menggelar turnamen West Games di Dash Padel House, Kedoya Selatan, Jakarta Barat, Sabtu (10/10). Ajang perdana yang mengumpulkan venue serta berbagai komunitas se-Jakarta Barat dalam satu turnamen itu menjadi langkah awal PBPI Jakarta Barat untuk menghimpun potensi sekaligus memperkuat kolaborasi antarpelaku olahraga padel di wilayah tersebut.
Ketua PBPI Jakarta Barat Alit Aryaguna mengatakan, West Games menjadi wadah silaturahmi antara pengurus federasi dan pemilik venue. Melalui event tersebut, PBPI ingin menyerap aspirasi pelaku usaha sekaligus merumuskan langkah bersama untuk mengembangkan olahraga padel.
“PBPI Jakarta Barat baru dibentuk sekitar satu hingga dua bulan lalu. Program awal kami adalah merangkul seluruh elemen yang terlibat dalam olahraga padel, terutama pemilik lapangan di Jakarta Barat,” kata Alit di sela-sela turnamen.
Menurutnya, Jakarta Barat memiliki sekitar 100 lapangan padel yang tersebar di berbagai venue. Sekitar 25 venue hadir dalam West Games dan mengirimkan satu hingga tiga pasangan untuk bertanding. Selain perwakilan venue, tim Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jakarta Barat turut ambil bagian.
Turnamen perdana tersebut mempertandingkan kategori putra dengan total 33 pasangan. Format tersebut menjadi tahap awal sebelum PBPI Jakarta Barat mengembangkan kompetisi dengan kategori yang lebih beragam.
“Turnamen sebenarnya bukan tujuan utama. Kami ingin mempertemukan pengelola lapangan, mendengar keluhan dan masukan mereka, serta mendiskusikan bagaimana industri padel di Jakarta Barat bisa berkembang ke depan,” ucapnya.
Alit menilai Jakarta Barat memiliki modal kuat untuk mengembangkan padel, terutama karena masyarakat setempat sudah lama mengenal olahraga raket. Keberadaan lapangan tenis yang tersebar di wilayah tersebut dinilai turut membentuk basis pemain yang memiliki minat terhadap kompetisi padel.
“Olahraga raket di Jakarta Barat sudah memiliki fondasi sejak lama. Kami melihat masyarakat di sini punya minat tinggi terhadap pertandingan dan kompetisi. Karena itu, padel memiliki potensi besar untuk berkembang,” kata Alit.
Potensi tersebut, lanjut dia, juga ditopang keberadaan sekolah-sekolah yang aktif mengikuti berbagai kompetisi olahraga. Kondisi itu membuka peluang untuk memperluas pembinaan pemain, khususnya dari kelompok usia muda.
Karena itu, imbuh Alit, PBPI Jakarta Barat telah menyiapkan agenda lanjutan setelah West Games. Pada November, federasi berencana menggelar kompetisi junior untuk kelompok usia 14, 16, dan 18 tahun. Adapun pada Desember, kegiatan akan diarahkan pada kompetisi sosial antarkomunitas, termasuk mempertemukan para orang tua murid dari sekolah-sekolah di Jakarta Barat.
Rangkaian program tersebut diharapkan dapat memperluas basis partisipasi padel, mulai dari kompetisi antarpemain hingga kegiatan yang melibatkan keluarga dan komunitas sekolah. Ke depan, PBPI Jakarta Barat juga berpeluang mengembangkan kategori pertandingan yang lebih beragam.
Industri dan Prestasi Beriringan
Wakil Ketua Umum PBPI Mochtar Sarman yang turur hadir mengapresiasi penyelenggaraan West Games. Menurut dia, kegiatan yang mempertemukan pengurus dan pemilik venue merupakan bagian penting dalam membangun ekosistem padel yang solid, baik untuk kepentingan prestasi maupun industri.
“Kami senang melihat kegiatan seperti ini karena salah satu tugas pengurus kota adalah menjalin silaturahmi dengan para pemilik klub padel. Mereka bisa bermain secara sportif sekaligus berdiskusi tentang hal-hal yang perlu dilakukan untuk mengembangkan olahraga ini,” kata Mochtar.
Dia menegaskan pertumbuhan industri padel perlu berjalan beriringan dengan peningkatan prestasi. Karena itu, PBPI mendorong pengurus di tingkat kota untuk aktif membangun hubungan dengan pengelola klub dan venue agar keduanya dapat saling mendukung.
Mochtar juga menyoroti pentingnya keterlibatan pemilik venue dalam pembinaan atlet muda. Dukungan fasilitas, pendanaan, dan program latihan dinilai diperlukan agar pemain potensial memperoleh kesempatan berkembang secara terarah.
“Kami mendorong pengurus kota merangkul pemilik klub agar mereka ikut berkontribusi melahirkan atlet-atlet muda. Salah satu caranya melalui dukungan fasilitas dan pelatihan, termasuk mendorong klub memiliki akademi agar talenta muda bisa dibina dengan baik,” ucapnya. (H-4)
