Kemehut : Hotspot Karhutla Kalteng Tertinggi
Foto udara kebaran hutan dan lahan (karhutla) dengan kabut asap yang membumbung tinggi di Hutan Lindung kalimantan( ANTARA/Bayu Pratama S)

TITIK panas atau hotspot meningkat menjadi 122 titik di Kalimantan Tengah (Kalteng) Angka itu menjadi yang tertinggi di antara enam provinsi prioritas pengendalian karhutla berdasarkan pemantauan hingga 9 Oktober 2026.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Ristianto Pribadi mengatakan peningkatan hotspot di Kalimantan Tengah menjadi perhatian pemerintah dalam upaya pengendalian karhutla.

“Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian setelah mencatat jumlah hotspot tertinggi di antara enam provinsi prioritas pada pemantauan terbaru. Karena itu, pemantauan intensif dan verifikasi langsung di lapangan terus diperkuat,” kata Ristianto dalam keterangan tertulis, Sabtu (10/10).

Berdasarkan data Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kemenhut, hingga Jumat (9/10) pukul 21.00 WIB, terdeteksi 437 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) secara nasional. Jumlah tersebut meningkat 50 titik daripada sehari sebelumnya yang mencatat 387 titik.

Di enam provinsi prioritas, Kalimantan Tengah mencatat 122 hotspot, meningkat dari 86 titik. Sementara itu, Sumatera Selatan mencatat 107 titik, turun dari 130 titik.

Peningkatan juga terjadi di Jambi dari tiga menjadi 15 titik dan Kalimantan Barat dari 12 menjadi 13 titik. Sebaliknya, Kalimantan Selatan mengalami penurunan dari 37 menjadi 13 titik. Adapun Riau tidak mencatat hotspot.

Secara keseluruhan, enam provinsi prioritas mencatat 270 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi, relatif stabil dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 268 titik.

Ristianto menjelaskan, temuan hotspot tidak dapat langsung diartikan sebagai jumlah kejadian kebakaran maupun luas lahan yang terbakar. Setiap indikasi titik panas perlu diperiksa langsung di lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya.

“Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit dan tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas areal yang terbakar. Karena itu, seluruh indikasi tetap harus diverifikasi melalui groundcheck untuk memastikan kondisi aktual serta menentukan tindakan penanganan yang diperlukan,” ujarnya.

Pengendalian karhutla dilakukan secara terpadu oleh Manggala Agni Kemenhut bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dan pihak terkait lainnya.

Pemerintah juga menyiagakan 61 unit armada udara, terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta 44 unit untuk operasi water bombing atau pemadaman melalui pengeboman air.

Penanganan di darat meliputi patroli, verifikasi titik panas, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, hingga pendinginan. Perhatian khusus diberikan pada kawasan gambut karena bara api dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan meskipun api di permukaan sudah tidak terlihat.

Selain pengendalian kebakaran, pemerintah memantau kualitas udara berdasarkan konsentrasi partikulat halus PM2,5. Sejumlah wilayah di Sumatera, Kalimantan, dan Papua masih mengalami kondisi udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Bahkan, beberapa lokasi di Kalimantan dan Papua terpantau berada dalam kategori berbahaya.

Masyarakat di wilayah terdampak diimbau mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara, mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kondisi memburuk, serta menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar. Perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan maupun penyakit kronis.

Di sisi lain, Kemenhut mencatat sedikitnya 272 individu satwa liar di Kalimantan telah mendapatkan penanganan melalui penyelamatan, evakuasi, translokasi, rehabilitasi, hingga penggiringan menuju habitat yang lebih aman.

Penanganan tersebut meliputi 105 individu di Kalimantan Selatan, 71 individu di Kalimantan Barat, 48 individu di Kalimantan Tengah, dan 48 individu di Kalimantan Timur.

Kemenhut mengimbau masyarakat dan pelaku usaha tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Masyarakat yang menemukan titik api, asap, aktivitas pembakaran, maupun satwa liar yang membutuhkan pertolongan diminta segera melaporkannya kepada petugas. (H-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *