
MENTERI Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyampaikan tim dari Inspektorat Jenderal Kemendikdasmen sudah datang ke Pemalang, Jawa Tengah, untuk menindaklanjuti kasus perundungan.
“Sudah ada tim dari Irjen yang datang langsung ke orang tuanya,” ujarnya di Kabupaten Semarang, Jumat (9/10).
Mendikdasmen menjelaskan Tim Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Jateng bertemu dengan Bupati Pemalang, kepala dinas terkait, dan juga masyarakat untuk menyelesaikan kasus perundungan yang berujung pada kematian siswa.
“Kami berusaha untuk bagaimana agar persoalan ini diselesaikan dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Ia prihatin atas masih berulangnya kasus perundungan di Pemalang dengan korban seorang anak kelas 2 sekolah dasar (SD).
“Mudah-mudahan tidak terus terulang di masa akan datang,” kata dia.
Kemendikasmen, sambing Abdul Mu’ti berusaha membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman dapat ditegakkan di semua satuan pendidikan. Namun, peraturan itu belum berjalan dengan baik.
“Kami berkomitmen dan mengajak semua pihak untuk lebih meningkatkan pembinaan kepada anak-anak, tidak hanya ketika mereka berada di sekolah tapi juga ketika di rumah, di masyarakat dan ketika mereka menggunakan media,” paparnya.
Mu’ti menyebut banyak pelaku kekerasan itu terinspirasi oleh apa yang mereka tonton terutama di internet dan media sosial.
” Anak-anak tidak tahu membedakan antara dunia nyata dengan dunia maya sehingga kadang-kadang apa yang mereka lihat itu, kemudian mereka lakukan dalam kehidupan nyata,” ucap Mendikdasmen.
Pembinaan di sekolah, kata dia, tidak cukup tanpa dukungan pembinaan orang tua di dalam keluarga. Pembinaan di sekolah dan keluarga tidak cukup tanpa pembinaan di masyarakat.
Seperti diberitakan siswa kelas 2 SD di Kabupaten Pemalang, berinisial A,7, meninggal dunia setelah diduga menjadi korban perundungan oleh kakak kelasnya. Korban meninggal dunia pada Rabu (30/9), setelah sempat dirawat di RSUD dr M Ashari Pemalang sejak Kamis (17/9). (Ant/H-4)
