Asap Karhutla Melintas hingga ke Singapura dan Malaysia, Presiden Jalin Komunikasi Intensif
Wakil Menteri Kehutanan RI Rohmat Marzuki(MI/Agus Utantoro)

MASALAH kabut asap lintas negara (transboundary haze) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali menjadi perhatian serius pemerintah. Presiden Prabowo Subianto dilaporkan telah menjalin komunikasi intensif dengan pemimpin negara tetangga, khususnya Singapura dan Malaysia, guna memperkuat kolaborasi penanganan bencana tersebut.

Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) RI, Rohmat Marzuki, menegaskan bahwa kerja sama internasional sangat krusial untuk menghadapi ancaman asap yang meluas, terutama saat fenomena El Nino menguat.

“Terkait dengan transboundary haze yang sudah lintas antarnegara, Presiden sudah melakukan komunikasi dengan pimpinan negara sahabat, terutama Singapura dan Malaysia, untuk bersama-sama memperkuat kerja sama penanganan karhutla,” ujar Rohmat usai menghadiri Dies Natalis ke-63 Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (9/10).

Tantangan Iklim dan Capaian Penekanan Luas Kebakaran

Rohmat menjelaskan bahwa kondisi iklim saat ini memberikan tantangan berat yang serupa dengan krisis karhutla pada 2015, di mana saat itu lahan seluas 2,6 juta hektare hangus terbakar. Namun, ia menilai kolaborasi lintas sektor sejauh ini telah membuahkan hasil positif dalam menekan angka kebakaran.

“Alhamdulillah berkat kolaborasi para pihak, pada tahun 2025 kemarin kita bisa menekan luas kebakaran hutan hingga sekitar 350.000 hektare,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa ancaman karhutla merupakan isu global. Dalam rapat Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Indonesia berbagi pengalaman penanganan karhutla bersama negara pemilik hutan tropis lainnya seperti Brasil, Bolivia, dan Kongo.

Fokus pada Lahan Gambut dan Penguatan Kelembagaan

Salah satu strategi utama yang disiapkan pemerintah adalah penguatan kelembagaan melalui rencana pembentukan Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional. Rohmat menekankan bahwa lahan gambut merupakan titik paling rawan dalam pengendalian karhutla di Indonesia.

Karakteristik Lahan Gambut:

Lahan gambut yang mengering menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar dan menghasilkan volume asap yang luar biasa besar. Asap pekat inilah yang kemudian terbawa angin hingga mencapai wilayah negara sahabat.

“Tantangan utama kita adalah penanganan karhutla di lahan gambut. Jika sudah kering, ia menjadi bahan bakar yang sangat hebat. Produksi asapnya luar biasa, dan ketika terbawa angin, bisa menuju ke negara tetangga,” jelas Rohmat.

Pemerintah berharap melalui kombinasi penguatan lembaga domestik dan diplomasi internasional, penanganan karhutla dapat berjalan lebih efektif dan dampak kabut asap lintas negara dapat diminimalisasi secara signifikan. (AU/E-4)

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *