Sumba Weaving Museum: Pelestarian Tenun Pahikung Berbasis Masyarakat di Sumba Timur
Masyarakat Kampung Raja Pau, Sumba Timur, NTT, yang berperan menjaga dan meneruskan pengetahuan mengenai tenun Pahikung kepada pengunjung Sumba Weaving Museum.(MI/HO)

MASYARAKAT Kampung Raja Pau, Sumba Timur, kini memiliki ruang baru untuk melestarikan warisan leluhur melalui pengembangan Sumba Weaving Museum. Inisiatif yang digagas bersama Tenunin ini bertujuan memperkenalkan tenun Pahikung sekaligus memperkuat pariwisata berbasis masyarakat di wilayah tersebut.

Pengembangan museum ini mendapatkan dukungan internasional melalui program eMpowering Youths Across ASEAN (eYAA). Program kolaborasi antara ASEAN Foundation dan Maybank Foundation tersebut mempertemukan 11 relawan muda dari berbagai negara ASEAN dengan komunitas lokal untuk membangun proyek yang menjawab kebutuhan masyarakat setempat.

Communication Manager Tenunin, Risanti, menjelaskan bahwa museum ini dirancang agar masyarakat lokal tetap memegang kendali penuh atas pengetahuan budaya mereka. Warga Kampung Raja Pau tidak hanya menjadi objek cerita, tetapi berperan aktif sebagai pengelola dan edukator bagi para pengunjung.

“Dalam pengembangan museum, kami ingin pengetahuan tentang tenun tetap berada dekat dengan masyarakat yang memilikinya. Jadi, masyarakat lokal berperan menjaga, menjelaskan, dan meneruskan pengetahuan mengenai tenun kepada pengunjung,” ujar Risanti dalam keterangan resmi, Rabu (7/10/2026).

MI/HO—Bangunan Sumba Weaving Museum di Kampung Raja Pau, Sumba Timur, NTT, yang menampilkan koleksi kain tenun Pahikung.

Pengalaman Budaya Interaktif

Sumba Weaving Museum tidak sekadar memamerkan koleksi kain, tetapi juga menyajikan informasi mendalam mengenai filosofi motif, bahan alami yang digunakan, hingga proses pembuatan yang rumit.

Pengunjung diberikan kesempatan unik untuk berinteraksi langsung dengan tradisi, mulai dari mencoba alat tenun tradisional hingga mengenakan pakaian adat Sumba.

Daftar Layanan dan Biaya Kunjungan:






Layanan/Aktivitas Biaya (per orang)
Akses Museum & Pengalaman Menenun Rp50.000
Sewa Pakaian Adat Sumba Rp150.000

Pelestarian Tenun Pahikung

Tenun Pahikung merupakan bagian integral dari identitas Sumba Timur. Keterampilan ini biasanya diwariskan secara turun-temurun. Menariknya, tradisi ini juga berkembang melalui hubungan perkawinan antar-kampung, yang memungkinkan pertukaran teknik dan motif menenun antar-wilayah.

Kampung Raja Pau sendiri memiliki kekhasan pada motif-motif tertentu yang merepresentasikan pengetahuan lokal. Kehadiran museum ini menjadi ruang dokumentasi penting agar kekayaan intelektual tersebut tidak hilang ditelan zaman.

Keterlibatan 11 relawan pemuda ASEAN dalam proyek ini juga difokuskan pada penguatan kapasitas masyarakat. Tujuannya agar pengelolaan museum dapat berjalan secara berkelanjutan secara mandiri oleh warga setempat.

“Kami melihat museum sebagai ruang yang mempertemukan pelestarian budaya dengan kesempatan bagi masyarakat untuk mengembangkan aktivitas wisata yang berangkat dari kekuatan mereka sendiri. Keterlibatan pemuda ASEAN juga memperluas pertukaran pengetahuan sekaligus memperkenalkan tradisi Kampung Raja Pau dalam konteks kawasan,” tutup Risanti. (Z-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *