PLTS Terdistribusi dan BESS Jadi Solusi Fleksibilitas Energi Asia Tenggara
Foto udara kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Pulau Sembur di Kelurahan Galang Baru, Batam, Kepulauan Riau, Senin (21/9/2026).(ANTARA/Teguh Prihatna)

PERTUMBUHAN kebutuhan listrik di Asia Tenggara kini melampaui kecepatan pembangunan jaringan transmisi terpusat. Kondisi ini mendorong urgensi pengembangan sistem kelistrikan yang lebih fleksibel melalui pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terdistribusi yang dipadukan dengan teknologi penyimpanan energi baterai atau Battery Energy Storage System (BESS).

Solusi ini dinilai efektif untuk mempercepat penyediaan listrik, terutama di wilayah terpencil dan kepulauan yang sulit dijangkau jaringan konvensional. Topik tersebut menjadi fokus utama dalam forum bertema Distributed Power Generation and Battery Energy Storage yang diselenggarakan oleh Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) bersama Tenggara Strategics dalam rangkaian Bangkok Climate Action Week (BKKCAW) 2026 di Bangkok, Thailand, pada 8 Oktober 2026.

Keunggulan Sistem Terdistribusi

Sistem pembangkit terdistribusi, seperti PLTS atap, instalasi surya komersial, dan mini-grid, memiliki keunggulan modular dengan waktu pembangunan yang relatif singkat. Integrasi dengan BESS memastikan energi yang dihasilkan dapat disimpan dan digunakan saat produksi tenaga surya menurun.

MI/HO—Forum bertema Distributed Power Generation and Battery Energy Storage yang diselenggarakan oleh Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) bersama Tenggara Strategics dalam rangkaian Bangkok Climate Action Week (BKKCAW) 2026 di Bangkok, Thailand, pada 8 Oktober 2026.

Ketua Umum AESI, Mada Ayu Habsari, menekankan bahwa target pengembangan energi surya sebesar 100 gigawatt-peak (GWp) di Indonesia harus selaras dengan upaya pemerataan akses energi.

“Inklusi sosial dan ketahanan energi adalah semangat dari target 100GWp, termasuk menghadirkan energi melalui program elektrifikasi desa,” ujar Mada.

Berikut adalah ringkasan poin utama pengembangan energi terdistribusi berdasarkan forum tersebut:









Aspek Utama Detail dan Solusi
Target Kapasitas Pengembangan 100 GWp energi surya di Indonesia untuk pemerataan akses.
Tantangan Operasional Penyesuaian regulasi, perizinan adaptif, dan penguatan ekosistem lokal.
Model Bisnis Agregasi proyek skala kecil menjadi portofolio investasi yang menarik bagi modal global.
Skema Pendanaan Penggunaan blended finance (pendanaan campuran) untuk mitigasi risiko awal.
Standar Keamanan Adopsi standar internasional untuk keamanan baterai dan manajemen daur ulang.

Tantangan Investasi dan Pendanaan

Proyek energi terbarukan berskala kecil sering kali menghadapi biaya pengembangan yang tinggi dibandingkan kapasitasnya, sehingga kurang menarik bagi investor institusional. Senior Manager Climate Policy Initiative (CPI) Indonesia, Luthfyana Kartika Larasati, menyarankan penggunaan modal konsesional melalui skema blended finance.

“Modal konsesional harus ditargetkan spesifik untuk memitigasi risiko awal dan merangkum aset-aset kecil ini menjadi satu portofolio terpadu,” jelas Luthfyana. Dengan agregasi ini, skala investasi menjadi lebih memadai bagi pemodal besar.

Keamanan Baterai dan Keberlanjutan

Selain finansial, aspek teknis seperti keamanan baterai menjadi krusial. Joey Ocon, Principal Strategist Energy Transition Forum for the Future Southeast Asia, mengingatkan pentingnya standar keamanan sebelum implementasi skala besar. Hal ini mencakup sertifikasi ketahanan kebakaran, keterlibatan otoritas pemadam kebakaran dalam penentuan lokasi, serta kejelasan tanggung jawab pengelolaan limbah baterai.

Senada dengan itu, Direktur Eksekutif Earth Sherpa Hirotaka Koike dan Deputy Program Director New Energy Nexus Zhou Yu sepakat bahwa keberhasilan transisi energi sangat bergantung pada kesiapan ekosistem lokal dan model elektrifikasi berbasis komunitas. Model ini tidak hanya meningkatkan kelayakan ekonomi tetapi juga memastikan pasokan energi bersih yang andal bagi masyarakat di daerah kepulauan.

Forum yang dibuka oleh perwakilan KBRI Bangkok ini menegaskan bahwa percepatan transisi energi di Asia Tenggara memerlukan kolaborasi lintas sektor, mulai dari regulasi yang adaptif hingga kesiapan teknologi penyimpanan energi yang aman. (Z-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *