
PAKAR kesehatan masyarakat, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK., menekankan pentingnya kecukupan asupan serat bagi kesehatan pencernaan anak. Menurutnya, menjaga kesehatan saluran cerna merupakan langkah sederhana namun krusial untuk mendukung tumbuh kembang yang optimal.
“Yang terbukti secara klinis dan sudah dibuktikan oleh penelitian di Indonesia adalah memberikan asupan zat-zat bergizi yang dapat membuat sistem pencernaan itu bekerja dengan baik, dan ternyata sesimpel kasih serat yang cukup,” ujar Ray dalam diskusi bertajuk “Pencernaan Sehat, Kecerdasan Anak Optimal” di Jakarta, Kamis (8/10).
Ray menjelaskan bahwa di dalam saluran cerna anak terdapat triliunan bakteri baik yang membantu proses pencernaan. Agar dapat berfungsi secara maksimal, bakteri-bakteri tersebut membutuhkan asupan serat yang cukup sebagai sumber energi mereka.
Sumber Serat dan Tantangan pada Anak
Secara alami, kebutuhan serat anak dapat dipenuhi melalui konsumsi makanan sehari-hari. Namun, tantangan sering muncul pada anak usia di bawah lima tahun (balita) yang cenderung sulit mengonsumsi sayur dan buah.
| Kategori Sumber Serat | Contoh Makanan |
|---|---|
| Alami (Nabati) | Sayur-sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, dan biji-bijian. |
| Pangan Fungsional (Diperkaya) | Produk pangan yang mengandung Inulin, Fruktooligosakarida (FOS), dan Galakto-oligosakarida (GOS). |
Dokter yang juga menginisiasi Gut and Immunity Council di Indonesia ini menyebutkan bahwa serat tambahan seperti inulin, FOS, dan GOS telah terbukti secara klinis membantu kolonisasi bakteri baik. Proses ini memicu produksi short chain fatty acid atau zat asam di perut yang bermanfaat bagi kesehatan usus.
Hubungan Pencernaan dan Emosi Anak
Manfaat serat tidak hanya berhenti pada kelancaran buang air besar. Ray mengungkapkan adanya keterkaitan erat antara kesehatan perut dengan regulasi emosi anak melalui sinyal yang dikirimkan ke otak.
“Supaya nantinya feses anak tidak jadi lunak, tidak kolik, dan tidak konstipasi. Bahkan bisa kirim sinyal bagus juga ke otak dan akhirnya regulasi emosi anak lebih bagus,” tambahnya.
Sebaliknya, gangguan pencernaan dapat memicu masalah psikologis pada anak, seperti mudah marah, cemas, hingga tantrum.
Berdasarkan studi berjudul “Breaking the cycle: Psychological and social dimensions of pediatric functional gastrointestinal disorders” yang dipublikasikan pada World Journal of Clinical Pediatrics (2025), ditemukan bahwa sekitar 58% anak dengan gangguan fungsi pencernaan menunjukkan tanda-tanda disregulasi emosi.
Dengan demikian, para orangtua diimbau untuk lebih bersiasat dalam memenuhi kebutuhan serat harian anak, baik melalui bahan makanan alami maupun produk pangan yang telah diperkaya, demi menjaga kesehatan fisik dan mental buah hati. (Ant/Z-1)
