Fenomena Tanah Retak di Dusun Limus Kalbar bukan Tanda Perubahan Jadi Gurun
Ilustrasi(magnific)

FENOMENA munculnya retakan lahan di Dusun Limus, Kalimantan Barat, belakangan ini menarik perhatian publik. Pola retakan yang terbentuk sekilas menyerupai pemandangan tanah pecah-pecah di kawasan kering benua Afrika. Namun, para ahli menegaskan bahwa fenomena ini tidak serta-merta menjadi indikator bahwa lahan di Kalimantan tengah bertransformasi menjadi gurun.

Guru Besar Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian IPB University, Prof Widiatmaka, menjelaskan bahwa retakan tanah merupakan proses alami yang terjadi ketika tanah atau endapan lumpur kehilangan kandungan air secara drastis. Proses ini menyebabkan material mengalami penyusutan (shrinkage).

“Yang paling umum adalah pengeringan tanah atau endapan lumpur yang mengandung liat. Saat kehilangan air, material tersebut menyusut, sementara penyusutannya tertahan oleh lapisan di bawah atau material di sekitarnya. Tegangan yang muncul kemudian membuat permukaan pecah membentuk pola retakan,” ujar Prof Widiatmaka.

Pemicu dan Mekanisme Retakan

Menurut Prof Widiatmaka, terdapat berbagai faktor yang dapat memicu proses pengeringan tanah hingga menimbulkan retakan. Meskipun secara visual menyerupai kondisi di Afrika, mekanisme dasarnya tetap merujuk pada kehilangan air, namun pemicu lingkungannya bisa sangat berbeda.

Berikut adalah beberapa faktor yang berpotensi memicu munculnya retakan tanah:







Kategori Faktor Penyebab Spesifik
Alami/Klimatologi Berkurangnya curah hujan, tingginya tingkat penguapan, dan surutnya genangan air secara cepat.
Geofisika Penurunan permukaan tanah (subsiden) atau pergerakan tanah di lapisan bawah.
Aktivitas Manusia Pembukaan lahan (mengurangi naungan), perubahan sistem drainase, pengambilan air tanah, hingga aktivitas pertambangan.

Perlu Pemeriksaan Lapangan

Khusus untuk kasus di Dusun Limus, Prof Widiatmaka menilai dugaan awal yang paling masuk akal adalah adanya endapan lumpur atau tanah liat yang mengering. Namun, ia menekankan bahwa penyebab spesifiknya belum dapat dipastikan tanpa adanya pemeriksaan langsung di lapangan.

“Belum dapat dipastikan apakah pengeringan itu terutama akibat cuaca kering, surutnya genangan, atau perubahan tata air dan penggunaan lahan,” tambahnya.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan adanya ancaman lingkungan yang serius hanya berdasarkan penampakan visual semata.

Kapan Retakan Menjadi Ancaman?

Meskipun retakan tanah sering kali merupakan fenomena fisik biasa, Prof Widiatmaka memberikan catatan mengenai kondisi yang perlu diwaspadai. Penelitian lebih lanjut diperlukan jika fenomena tersebut menunjukkan tanda-tanda berikut:

  • Retakan terjadi secara berulang dan terus meluas.
  • Disertai dengan penurunan permukaan tanah yang signifikan.
  • Menyebabkan kematian vegetasi atau tanaman di sekitarnya.
  • Terjadi pengurangan sumber air secara drastis di kawasan tersebut.

“Retakan saja belum cukup untuk menyimpulkan adanya ancaman serius. Kondisi tanah, air, dan penggunaan lahannya perlu diperiksa terlebih dahulu,” pungkasnya. (Z-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *