Cara Menjaga Kesehatan Mental Menurut Psikolog: Mulai dari Fisik hingga Edukasi Diri
Ilustrasi menjaga kesehatan mental.(Dok. Magnific)

UPAYA menjaga kesehatan mental tidak selalu harus dimulai dengan langkah yang rumit. Psikolog klinis dewasa, Miki Amrilya Wardati, mengungkapkan bahwa langkah awal yang paling mendasar adalah dengan memenuhi kebutuhan dasar tubuh dan menjaga kesehatan fisik.

Dalam sebuah acara temu media di Jakarta, Kamis (8/10), Miki menjelaskan bahwa kondisi fisik yang prima menjadi fondasi bagi kesejahteraan mental. Hal ini dapat dicapai melalui penerapan pola hidup sehat secara konsisten.

“Kesehatan tubuh dapat dijaga dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, memastikan kecukupan tidur dan istirahat, serta berolahraga secara teratur,” ujar Miki.

Mengenali Sinyal Tubuh sebagai Alarm Awal

Selain aspek fisik, Miki menekankan pentingnya kesadaran diri (self-awareness) untuk memahami kondisi internal setiap hari. Mengenali sinyal-sinyal yang dikirimkan oleh tubuh sangat krusial untuk mendeteksi adanya gangguan mental sejak dini.

“Sebetulnya kita juga perlu tahu setiap hari ke hari itu kondisi diri seperti apa. Apakah ada yang tidak biasa, sesuatu yang dianggap mengganjal, jadi kita harus kenal sinyal tubuh apakah ada sesuatu atau tidak. Itu sebagai alarm awal,” jelasnya.

Koneksi Sosial dan Aktivitas Bermakna

Interaksi sosial juga memegang peranan penting dalam menjaga stabilitas emosional. Miki menyarankan agar setiap individu tetap terhubung dengan orang lain, meskipun intensitasnya disesuaikan dengan karakteristik masing-masing individu.

Selain itu, meluangkan waktu untuk melakukan kegiatan yang bernilai dan bermakna, seperti menekuni hobi, sangat dianjurkan. Menurut mitra psikolog Halodoc ini, melakukan hal-hal yang disukai efektif untuk menghadirkan emosi positif dalam keseharian.

Pentingnya Edukasi dan Bahaya Self-Diagnosis

Anggota Ikatan Psikolog Indonesia ini juga mendorong masyarakat untuk terus mengedukasi diri mengenai kriteria kesehatan mental. Pemahaman yang baik tidak hanya membantu seseorang mengenali kondisi dirinya sendiri, tetapi juga meningkatkan kepekaan terhadap orang-orang terdekat yang mungkin membutuhkan dukungan.

Namun, Miki memberikan peringatan keras terkait tren self-diagnosis atau mendiagnosis kondisi mental diri sendiri tanpa bantuan ahli. Pengetahuan tentang kesehatan mental seharusnya digunakan sebagai panduan awal, bukan alat untuk menyimpulkan gangguan secara mandiri.

“Itu kan menjadi bahaya ya karena salah memahami diri kita. Kalau sudah salah memahami seperti itu, otomatis nanti apa yang harus dilakukannya juga menjadi salah, menjadi tidak sesuai,” tegas Miki.

Ia menyarankan, jika seseorang merasakan tanda-tanda atau “alarm” bahwa kondisinya sedang tidak baik-baik saja, langkah terbaik adalah segera berkonsultasi dengan tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater untuk mendapatkan penanganan yang tepat. (Ant/H-3)

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *