Ratih Ibrahim Bagikan Tips untuk Orangtua Hadapi Anak Tantrum
Ilustrasi anak tantrum(Magnific)

PSIKOLOG klinis Ratih Ibrahim meminta para orangtua tidak ikut terpancing emosi atau “ikut tantrum” saat menghadapi ledakan emosi buah hati mereka terutama saat anak pada fase balita atau toddler.

Menurut Ratih, reaksi orangtua saat anak tantrum akan menjadi cermin bagi anak dalam belajar mengelola emosi. Jika orang tua merespons dengan kemarahan yang sama, anak akan menangkap pesan bahwa perilaku tersebut diperbolehkan.

“Kalau ibunya tantrum, anaknya jadi makin tantrum. Anak akan belajar bahwa emotional regulation-nya jadi persis kayak ibunya,” ujar Ratih yang juga merupakan anggota Tim Ahli Program Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (8/10).

Pentingnya Validasi Emosi

Alih-alih meledak dalam emosi, Ratih menyarankan orangtua untuk membantu anak mengenali dan memahami perasaan yang sedang mereka alami. Langkah sederhana seperti memberikan validasi verbal dapat memberikan dampak besar pada kesadaran diri anak.

Orang tua bisa mencoba mengucapkan kalimat penenang seperti, “Iya, Ibu mengerti kamu sedang kesal.” Tindakan ini membantu anak menyadari bahwa memiliki perasaan negatif adalah hal yang wajar, dan yang terpenting, mereka tetap merasa dicintai meski dalam kondisi emosional.

Namun, Ratih juga mengingatkan bahwa validasi harus dibarengi dengan pengajaran batasan. Anak perlu diajarkan cara mengekspresikan perasaan tanpa harus melakukan tindakan yang merusak atau membahayakan.

Catatan Penting: Menghindari kebiasaan menyalahkan benda mati (seperti menyalahkan lantai saat anak jatuh) sangat krusial. Hal ini agar anak memiliki self-awareness dan memahami bahwa emosi yang muncul adalah hal biasa yang harus dihadapi, bukan dialihkan kesalahannya pada objek lain.

Membangun kecerdasan emosional sejak dini bukan sekadar urusan menenangkan anak yang menangis. Ratih menjelaskan bahwa anak yang tidak memiliki kecerdasan emosional memadai jauh lebih rentan mengalami masalah kesehatan mental saat beranjak dewasa. (Ant/H-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *