Mampukah Kita Melindungi Situs Bersejarah Apollo di Bulan?
Jejak kaki manusia pertama di dunia lain, di lokasi pendaratan bulan Apollo 11.(NASA)

BULAN bukan lagi sekadar satelit alami yang sepi. Wilayah ini telah menjadi panggung sejarah yang menyimpan jejak kendaraan penjelajah robotik hingga tapak kaki manusia dari misi Apollo pada periode 1969 hingga 1972. Namun, pesatnya aktivitas eksplorasi antariksa belakangan ini mulai mengancam keberadaan berbagai situs warisan budaya tersebut.

Pertemuan Komite Ilmiah Internasional untuk Warisan Antariksa (International Scientific Committee on Aerospace Heritage atau ISCAH) di Pisa, Italia, menyoroti pentingnya perlindungan situs sejarah Bulan. Para ahli membahas panduan untuk membatasi dampak negatif dari aktivitas penjatuhan (deorbiting) satelit maupun roket ke permukaan Bulan.

Ancaman ini makin nyata setelah bagian atas roket Falcon 9 milik SpaceX jatuh dan memicu benturan di permukaan Bulan. Dengan meningkatnya lalu lintas ke Bulan, skenario menjatuhkan wahana dan sisa roket yang habis masa tugasnya menjadi strategi akhir misi yang makin sering dipilih.

Risiko Debu Abrasif dan Benturan Fatal

Para peneliti mengungkapkan bahwa pengetahuan terkait dampak benturan dan sebaran material (ejecta) di Bulan masih sangat terbatas. Sebagian besar pemahaman saat ini masih mengandalkan simulasi komputer.

Kondisi Bulan yang tidak memiliki atmosfer membuat setiap pergerakan atau benturan merusak permukaan secara signifikan. Debu Bulan yang lengket dan abrasif dapat terkikis akibat benturan serta mengancam situs-situs bersejarah.

“Bulan adalah bagian dari lanskap budaya Bumi,” kata Beth O’Leary, spesialis antropologi budaya dan arkeologi sekaligus profesor emerita di New Mexico State University.

Associate Professor Alice Gorman, arkeolog dan konsultan warisan budaya dari Flinders University, Australia, menegaskan bahaya debu abrasif tersebut terhadap material peninggalan manusia.

“Ini adalah masalah bagi situs warisan budaya. Bayangkan modul pendaratan Apollo 11 yang ikonik, Eagle, terkikis hingga hancur menjadi debu,” ujar Gorman.

Gorman mencatat setidaknya sudah ada 51 benturan keras wahana antariksa di Bulan, termasuk 9 badan roket dan 19 orbiter Bulan. Menurutnya, kawah hasil benturan ini bukan lagi sekadar situs arkeologi baru, melainkan potensi bahaya lingkungan yang berisiko menimbulkan kerusakan permanen.

Ia juga mengingatkan aturan dalam Perjanjian Luar Angkasa (Outer Space Treaty) tahun 1967. Berdasarkan perjanjian tersebut, suatu negara bertanggung jawab atas kerusakan yang disebabkan oleh perangkat antariksanya terhadap milik negara lain.

Merumuskan Panduan Internasional

Lebih dari 60 tahun sejak pendaratan halus pertama oleh wahana Luna 9 milik Uni Soviet pada Februari 1966, aktivitas di Bulan dipastikan bakal melonjak tajam. Negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan China kini tengah bersiap membangun pangkalan permanen di wilayah kutub selatan Bulan.

ISCAH, yang beroperasi di bawah Dewan Monumen dan Situs Internasional (ICOMOS) dan bekerja sama dengan World Monuments Fund, sedang mengumpulkan data ilmiah untuk meminimalkan risiko kerusakan permanen pada situs bersejarah.

Luca Forassiepi dari ISCAH menjelaskan bahwa mereka akan memasuki tahap dialog dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari lembaga antariksa, komunitas ilmiah, pelaku industri swasta, hingga kelompok masyarakat yang memiliki nilai sosial serta religi terhadap Bulan.

“Tujuannya adalah memulai dialog terbuka dan pertukaran gagasan di antara seluruh aktor ini, guna bersama-sama menyusun panduan berdasarkan konsensus yang luas,” tutur Forassiepi.

Rekomendasi tersebut rencananya diserahkan kepada Komite PBB untuk Penggunaan Luar Angkasa Secara Damai (UN COPUOS) pada tahun 2027. Harapannya, panduan ini dapat berkembang menjadi standar perilaku internasional yang dipatuhi oleh seluruh pelaku industri antariksa demi menjaga bukti awal keberadaan manusia di luar bumi. (Space/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *