Keluarga Tentara yang Tewas pada Serangan 7 Oktober tidak akan Maafkan Netanyahu
Benjamin Netanyahu.(Al Jazeera)

KELUARGA dari tentara pengintai perempuan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) yang tewas dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 menyatakan bahwa tidak ada maaf atas kegagalan yang menyebabkan kematian putri-putri mereka. Pernyataan keras ini menjadi teguran langsung bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam peringatan tiga tahun tragedi tersebut.

Sebanyak 16 tentara pengintai termasuk di antara 53 pasukan yang tewas ketika pangkalan Nahal Oz diserbu oleh kelompok Hamas. Sebelum invasi terjadi, para pengintai perempuan ini dilaporkan telah mengirimkan peringatan mengenai latihan teroris untuk kemungkinan serangan, tetapi laporan tersebut diabaikan.

Hal ini dianggap sebagai salah satu dari sekian banyak kegagalan fatal yang berkontribusi pada pembantaian tersebut. Beberapa tentara pengintai bahkan mengeklaim ada faktor seksisme yang menyebabkan peringatan mereka tidak digubris oleh atasan.

Dror Ashram, ayah dari Sersan Shay Ashram yang gugur dalam insiden itu, menyampaikan pesan emosional pada Rabu (7/10). “Pada pukul 06.29 tiga tahun lalu, ketika gerbang neraka terbuka, tidak ada dari kami yang membayangkan hal terburuk akan terjadi,” ujarnya saat berdiri bersama keluarga korban lain di monumen peringatan.

“Kami berdiri di sini tiga tahun kemudian dan tidak ada maaf, dan tidak akan pernah ada, atas hilangnya gadis-gadis kami, atas neraka yang mereka lalui di saat-saat terakhir, atas kegagalan, dan atas pengabaian terhadap mereka dan kami. Kami tidak akan lupa dan tidak akan memaafkan,” tegas Ashram.

Kritik terhadap Pemerintah dan Tuntutan Penyelidikan

Komentar Ashram mencerminkan gambaran sosial yang kompleks di Israel saat negara tersebut merenungkan hari paling kelam dalam sejarahnya. Banyak keluarga korban tewas maupun sandera kembali melontarkan kritik tajam terhadap pemerintahan Netanyahu, baik karena gagal mencegah serangan Hamas maupun lambatnya proses pemulangan warga Israel yang diculik.

Meskipun peringatan ini menjadi momen solidaritas nasional dengan upacara di berbagai kibbutz sekitar Gaza, ketegangan politik tetap terasa. Di jalan raya Ayalon, Tel Aviv, para pengemudi menghentikan kendaraan mereka untuk mengheningkan cipta tepat pada saat serangan dimulai tiga tahun lalu.

Dalam upacara resmi di permakaman nasional Mount Herzl, Jerusalem, Netanyahu bersumpah untuk menumpas sisa-sisa teroris yang terlibat dalam aksi tersebut. Namun, janji ini dibarengi dengan desakan dari berbagai pihak, termasuk Presiden Israel Isaac Herzog, untuk melakukan penyelidikan independen terhadap bencana tersebut–langkah yang hingga kini masih dicegah oleh sang perdana menteri.

Respons Pemimpin Dunia

Peringatan tiga tahun tragedi 7 Oktober ini juga menjadi perhatian pemimpin Eropa. Presiden Prancis Emmanuel Macron mengutuk serangan biadab tersebut yang turut menewaskan 51 warga negara Prancis. Ia menegaskan komitmen Prancis untuk melawan antisemitisme dan terorisme demi perdamaian dan keamanan global.

Di Inggris, tokoh seperti Andy Burnham menggunakan momentum ini untuk memperingatkan lonjakan perilaku antisemit. Ia menegaskan bahwa kekerasan dan pelecehan terhadap komunitas Yahudi tidak akan ditoleransi. (The Telegraph/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *