
DELAPAN abad setelah Santo Fransiskus Assisi wafat, tantangan terbesar bukan lagi bagaimana mengenang sang santo, melainkan bagaimana memastikan warisan hidupnya tidak berhenti sebagai seremoni di dalam gereja.
Pertanyaan itulah yang mengemuka dalam perayaan Yubileum 800 Tahun Transitus Santo Fransiskus Assisi di Paroki Santo Fransiskus Assisi Karot, Keuskupan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), Minggu (4/10).
Perayaan puncak yang dipimpin Pastor Paroki Karot, Pater Bonaventura Y. Lelo, OFM, bersama para imam konselebran, dihadiri ratusan umat, biarawan-biarawati, dan pengurus pastoral paroki.
Namun, perayaan tersebut tidak diarahkan semata-mata untuk mengenang seorang santo yang hidup pada abad ke-13. Yubileum justru ditempatkan sebagai ruang bercermin: apakah iman yang dirayakan di altar sungguh menemukan bentuknya dalam kehidupan manusia, terutama ketika masyarakat berhadapan dengan individualisme, ketimpangan, krisis ekologis, dan penderitaan akibat bencana.
Di titik itu, Fransiskus tidak dihadirkan sebagai figur yang jauh dan sempurna. Ia justru ditampilkan sebagai manusia yang pernah bergumul dengan ego, ambisi, dan keinginan memperoleh pengakuan.
“Apakah Fransiskus seorang manusia super yang membuat dia patut dikenang selama 800 tahun ini? Jawabannya: tidak,” tegas Pater Bonaventura.
Pernyataan itu menjadi pintu masuk untuk memahami makna Yubileum. Fransiskus dikenang bukan karena ia bebas dari kelemahan manusiawi, melainkan karena ia membiarkan pergulatan itu mengubah arah hidupnya.
Ketika Ego Harus Diruntuhkan
Dalam refleksinya atas perumpamaan kebun anggur, Pater Bonaventura menggambarkan kebun anggur sebagai gambaran Allah, alam semesta, sekaligus diri manusia. Semuanya membutuhkan perawatan.
Manusia tidak cukup hanya menerima kehidupan sebagai anugerah. Ia dituntut menghasilkan buah. Buah itu berupa kasih, kebaikan, kepedulian, dan keberanian hadir bagi mereka yang tersisih.
Transformasi Fransiskus, menurut dia, menemukan salah satu titik penting ketika Fransiskus berani mendekati dan merangkul penderita kusta.
Bagi Fransiskus, orang yang disingkirkan masyarakat itu bukan sekadar objek belas kasihan. Di sana ia menemukan wajah Kristus yang tersalib.
Perjumpaan tersebut mengubah orientasi hidupnya. Dari manusia yang berpusat pada diri sendiri menjadi pribadi yang membangun relasi.
“Merangkul orang kusta adalah titik saat Fransiskus meruntuhkan egonya. Salam Pax et Bonum merupakan komitmen hidup untuk berdamai dengan Allah, diri sendiri, sesama, dan seluruh ciptaan,” ujarnya.
Pesan itu menjadi penting justru karena kehidupan modern sering bergerak ke arah sebaliknya. Manusia semakin mudah terhubung melalui teknologi, tetapi tidak selalu semakin dekat sebagai manusia. Informasi bergerak cepat, tetapi kepedulian dapat tertinggal. Ruang publik semakin ramai, tetapi suara mereka yang lemah kerap tetap tidak terdengar.
Dalam situasi seperti itu, Pax et Bonum tidak cukup menjadi salam. Ia menuntut konsekuensi.
Damai dengan Allah harus berbuah dalam damai dengan diri sendiri. Damai dengan diri sendiri harus membuka ruang bagi sesama. Dan relasi dengan sesama tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab terhadap seluruh ciptaan.
Gereja tidak Boleh Berhenti di Altar
Di sinilah perayaan Yubileum 800 Tahun memperoleh relevansinya. Perayaan iman berisiko kehilangan daya ubah ketika berhenti pada liturgi, dekorasi, slogan, dan agenda seremonial. Sebaliknya, iman menemukan ukurannya ketika mampu menjawab penderitaan konkret manusia.
Paroki Santo Fransiskus Assisi Karot mencoba menerjemahkan refleksi tersebut melalui penguatan komunitas basis, aksi sosial kemanusiaan, kepedulian terhadap lingkungan, serta keterlibatan dalam perjuangan keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan.
“Iman Fransiskan harus mengejawantah dalam tindakan nyata. Yubileum ini memanggil kita untuk hadir di tengah komunitas basis, menjaga kelestarian lingkungan, serta membela mereka yang membutuhkan pertolongan,” kata Pater Bonaventura.
Pesan tersebut sekaligus menggeser cara pandang terhadap perayaan gerejani. Yubileum bukan sekadar peristiwa yang selesai ketika umat meninggalkan gereja setelah misa.
Justru setelah liturgi selesai, pertanyaan sebenarnya dimulai. Apa yang dilakukan umat terhadap orang yang kelaparan? Bagaimana Gereja hadir ketika masyarakat kehilangan rumah? Bagaimana umat memperlakukan lingkungan yang rusak? Dan sejauh mana komunitas gerejani berani berdiri bersama mereka yang tersingkir?
Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan itu menjadi ukuran apakah perayaan iman menghasilkan buah.
Dari Karot ke Korban Gempa Flores
Refleksi tersebut menemukan konteks yang konkret dalam solidaritas terhadap masyarakat Flores yang terdampak gempa bumi.
Melalui Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (Justice, Peace, and Integrity of Creation/JPIC) OFM Indonesia, para relawan Fransiskan terlibat dalam pendampingan masyarakat terdampak, termasuk dukungan psikososial dan penyaluran bantuan darurat.
Di tengah penderitaan korban bencana, spiritualitas Fransiskan tidak lagi berbicara dalam bahasa abstrak.
Ia hadir dalam bentuk pendampingan, bantuan, keberadaan bersama korban, dan keberanian untuk tidak meninggalkan mereka sendirian menghadapi kehilangan.
“Persaudaraan Fransiskan tidak dibatasi oleh dinding gereja. Ketika saudara-saudari kita di Flores tertimpa bencana gempa, di situlah Kristus yang tersalib hadir dan memanggil kita untuk bertindak,” tutur Pater Bonaventura.
Bagi dia, solidaritas semacam itu merupakan konsekuensi langsung dari iman.
“Yubileum ini menjadi hampa jika kita berpangku tangan. Melalui kehadiran para relawan JPIC, kita ingin menghadirkan wajah Allah yang penuh belas kasih dan pengharapan bagi mereka yang kehilangan tempat tinggal,” tambahnya.
Pernyataan tersebut menempatkan korban bencana bukan sebagai objek bantuan, melainkan saudara yang harus ditemani.
Di sanalah semangat Fransiskus memperoleh wajah kontemporernya.
Delapan Abad, Pertanyaan yang Sama
Santo Fransiskus Assisi hidup antara 1181–1226 dan dikenal sebagai pendiri Ordo Saudara-Saudara Hina Dina (Order of Friars Minor/OFM). Ia dikenang sebagai pembawa damai dan salah satu figur penting dalam spiritualitas penghormatan terhadap ciptaan.
Delapan abad Transitus Fransiskus menjadi momentum Gereja Katolik dan keluarga besar Fransiskan di berbagai belahan dunia untuk kembali menggali warisannya.
Takhta Suci melalui Penitensiaria Apostolik juga menetapkan momentum Yubileum tersebut sebagai tahun rahmat khusus dengan ketentuan rohani tertentu bagi umat yang hendak memperoleh indulgensi penuh.
Namun, seluruh perangkat perayaan itu pada akhirnya kembali kepada satu pertanyaan sederhana: apa yang berubah dalam diri manusia setelah perayaan selesai?
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena bahaya terbesar sebuah jubileum bukan kurang meriahnya perayaan, melainkan ketika kemeriahannya tidak meninggalkan perubahan.
Fransiskus justru mengajarkan sesuatu yang berlawanan. Ia meninggalkan pusat kenyamanan dirinya untuk berjumpa dengan mereka yang dijauhi. Ia mengubah cara memandang penderita kusta. Ia membangun persaudaraan. Ia mengembangkan relasi damai dengan manusia dan seluruh ciptaan.
Karena itu, warisan Fransiskus tidak terutama berada pada banyaknya perayaan yang digelar untuk mengenangnya. Warisan itu berada pada keberanian untuk mengubah cara hidup.
Pax et Bonum sebagai Jalan Pulang
Di Karot, pesan Yubileum 800 Tahun akhirnya kembali kepada makna Pax et Bonum—damai dan kebaikan. Damai bukan sekadar absennya konflik. Kebaikan bukan sekadar tindakan karitatif sesaat. Keduanya menuntut relasi yang terus dirawat: dengan Allah, diri sendiri, sesama, dan alam.
Dalam dunia yang semakin individualistis, persaudaraan menjadi pekerjaan yang tidak pernah selesai. Ia membutuhkan keberanian untuk keluar dari ego, mendengar yang tersisih, mendampingi yang menderita, dan merawat bumi yang menjadi rumah bersama.
Karena itu, delapan abad wafatnya Fransiskus bukan terutama tentang melihat kembali masa lalu. Ia adalah pertanyaan untuk masa kini.
Apakah Gereja hanya ingin merayakan Fransiskus, atau sungguh-sungguh berani hidup seperti semangat yang diwariskannya?
Pertanyaan itulah yang membuat Yubileum 800 Tahun tidak berhenti di altar Karot. Ia justru baru menemukan maknanya ketika umat kembali ke tengah masyarakat dan membawa serta damai, kebaikan, persaudaraan, serta kepedulian terhadap ciptaan.
Sebab bagi Fransiskus, iman yang tidak menjelma menjadi kasih dan tindakan berisiko kehilangan daya ubahnya.
Dan di tengah dunia yang semakin sibuk merayakan dirinya sendiri, mungkin justru itulah otokritik paling penting yang diwariskan seorang santo dari Assisi setelah delapan abad. (H-2)
