Kontroversi Peringatan 7 Oktober Bayangi Kampanye Pemilu Netanyahu
Benjamin Netanyahu.(CBS News)

KONTROVERSI mengenai peringatan yang diduga diterima Benjamin Netanyahu menjelang serangan pimpinan Hamas pada 7 Oktober 2023 terus membayangi Perdana Menteri Israel tersebut. Isu ini menjadi krusial di tengah persiapan pemilihan umum yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober mendatang.

Laporan terbaru dari Wall Street Journal menyebutkan bahwa Kepala Intelijen Mesir, Abbas Kamel, memperingatkan Netanyahu melalui telepon hanya beberapa hari sebelum serangan terjadi. Peringatan ini memperkuat informasi sebelumnya pada September 2023, ketika Kamel dikabarkan terbang langsung ke Israel untuk memperingatkan pejabat keamanan mengenai rencana serangan Hamas.

Selain dari Mesir, laporan media Israel dan Amerika Serikat awal bulan ini juga menyiratkan bahwa Presiden Emirat Arab, Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan (MBZ), memberikan peringatan serupa seminggu sebelum kejadian. MBZ dilaporkan menyebut bahwa pemimpin Hamas di Gaza saat itu, Yahya Sinwar, sedang merencanakan serangan besar.

Penyangkalan dan Gugatan Hukum

Netanyahu dengan tegas membantah telah menerima peringatan apa pun dan bahkan mengajukan gugatan hukum atas klaim tersebut. Sementara itu, pemerintah Mesir dan Emirat memilih untuk tidak memberikan komentar resmi terkait spekulasi percakapan antar-pemimpin negara tersebut.

Di sisi lain, Netanyahu mencoba mengalihkan tanggung jawab kegagalan intelijen kepada mantan kepala dinas keamanan internal Israel (Shin Bet), Ronen Bar. Sebagai respons, Ronen Bar mengumumkan pada Senin (28/9) bahwa ia akan menuntut perdana menteri atas tuduhan pencemaran nama baik.

Dampak Politik dan Konsepsi Keamanan

Ahron Bregman, analis keamanan dari King’s College London, mengonfirmasi ada peringatan dari Mesir dan Emirat. Ia menyebut kegagalan Israel merespons peringatan tersebut disebabkan oleh sesuatu yang disebut sebagai ha-conceptzia–asumsi dasar keamanan Israel yang meyakini bahwa Hamas telah tergentar dan hanya ingin melonggarkan blokade Gaza, bukan meluncurkan perang skala penuh.

Rival politik Netanyahu mulai memanfaatkan situasi ini:

  • Naftali Bennett: Pemimpin aliansi Beyachad ini menyatakan jika tuduhan itu terbukti benar, Netanyahu tidak boleh menjabat sedetik pun.
  • Gadi Eisenkot: Mantan kepala staf militer dari partai Yashar menyebut Netanyahu tidak layak memimpin karena telah mengabaikan puluhan peringatan.

Data Pemilih: Meskipun kontroversi ini memanas, jajak pendapat menunjukkan basis pendukung Netanyahu di partai Likud cenderung tetap stabil. Analis menilai narasi Netanyahu sebagai orang luar yang diserang oleh kemapanan politik membuat pendukungnya lebih mudah mengabaikan laporan media sebagai berita bohong.

Konteks Krisis Kemanusiaan

Isu tanggung jawab keamanan ini tetap menjadi perhatian utama pemilih di tengah trauma serangan 7 Oktober yang menewaskan 1.139 orang di Israel. Di sisi lain, perang balasan Israel di Gaza berlangsung selama lebih dari tiga tahun dan menewaskan lebih dari 74.000 warga Palestina, memicu kecaman internasional atas krisis kemanusiaan yang terjadi.

Para analis memperingatkan bahwa meskipun peringatan ditindaklanjuti, kejutan strategis dari lawan yang bertekad kuat sulit untuk dicegah sepenuhnya. Mereka juga menyoroti bahwa pembatasan jangka panjang Israel di Gaza dan Tepi Barat berkontribusi pada risiko kekerasan yang tak terelakkan di masa depan. (Al Jazeera/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *