Mendikdasmen Abdul Mu'ti Ajak Kepala Sekolah Muhammadiyah Wujudkan Visi Pendidikan Unggul
Ilustrasi(Dok Istimewa)

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof Dr Abdul Mu’ti,  mengajak kepala sekolah dan madrasah Muhammadiyah menjadi pemimpin pendidikan yang memiliki wawasan luas, luwes dalam bersikap, adaptif terhadap perubahan, serta konsisten mewujudkan visi pendidikan yang unggul.

Pesan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti saat memberikan kuliah subuh kepada peserta Rakornas Sekolah/Madrasah Muhammadiyah Unggul 2026 yang digelar Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Bidang Bisnis dan Pariwisata, Depok, Jawa Barat, Rabu (30/9/2026). Rakornas tersebut diikuti 520 peserta yang terdiri atas kepala sekolah dan madrasah Muhammadiyah, Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah Didik Suhardi, serta pimpinan Majelis Dikdasmen PWM dan PDM se-Indonesia.

Abdul Mu’ti menegaskan bahwa kepemimpinan pendidikan harus berangkat dari visi yang jelas. Visi, menurutnya, bukan sekadar kalimat yang tertulis dalam dokumen sekolah, melainkan harus diterjemahkan menjadi tujuan, target, dan langkah nyata.

Sekolah dan madrasah Muhammadiyah juga perlu memiliki ciri khas serta keunggulan yang membedakannya dengan lembaga pendidikan lainnya.  “Keunggulan tersebut dibangun melalui kepemimpinan yang memiliki visi, keberanian mengambil risiko, kemampuan beradaptasi, serta kemauan untuk terus belajar,” tandas Abdul Mu’ti yang juga Guru Besar UIN Syarief Hidayatullah Jakarta.

Pada kesempatan sama,Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah H. Didik Suhardi, Ph.D mengungkapkan jumlah peserta didik Muhammadiyah pada tahun ajaran 2026/2027 mencapai 1.125.083 siswa. Jumlah tersebut meningkat 5,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Didik mengatakan pertumbuhan jumlah siswa tersebut menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan terhadap lembaga pendidikan Muhammadiyah. Menurutnya, capaian tersebut juga merupakan hasil kerja keras sekolah dan madrasah Muhammadiyah dalam meningkatkan kualitas pendidikan. “Jumlah murid kita itu 1.125.083 siswa. Jadi ada kenaikan 5,1 persen. Tahun lalu hanya 1,14 persen,” ungkap Didik.

Selain pertumbuhan jumlah peserta didik, Didik memaparkan jumlah satuan pendidikan Muhammadiyah juga terus bertambah. Berdasarkan data yang disampaikannya, jumlah sekolah Muhammadiyah meningkat dari 5.865 menjadi 6.024 satuan pendidikan. Sementara jumlah madrasah Muhammadiyah mencapai 1.972 satuan pendidikan.

Dari sisi prestasi, sebanyak 9.720 siswa Muhammadiyah tercatat meraih prestasi tingkat nasional, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik. Didik menyebut capaian tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya mutu pendidikan Muhammadiyah. “Ini merupakan indikator bahwa prestasi kita sudah mulai meningkat,” ujar Didik.

Prestasi Internasional

Didik juga mengungkapkan sejumlah siswa Muhammadiyah telah berprestasi di tingkat internasional. Salah satunya melalui ajang International Mathematics Science Olympics (IMSO) yang diikuti peserta dari 23 negara. Ia menyebut terdapat 11 siswa SD Muhammadiyah yang akan mengikuti ajang tersebut, dengan sembilan di antaranya berasal dari peserta Indonesia yang terdata dalam keikutsertaan tersebut. Didik berharap keikutsertaan siswa Muhammadiyah di kompetisi internasional dapat menjadi momentum peningkatan mutu pendidikan.

Di sisi lain, Didik mengingatkan sekolah yang telah menyandang predikat unggul agar tidak terjebak dalam zona nyaman. Sekolah unggul, menurutnya, harus terus meningkatkan prestasi akademik, nonakademik, serta keunggulan lain yang menjadi ciri khas pendidikan Muhammadiyah. “Ketika sudah menjadi sekolah unggul, kita tidak boleh masuk ke zona aman atau *comfort zone*. Kalau masuk zona aman, kita akan disalip oleh kompetitor,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa keunggulan sekolah Muhammadiyah perlu diperkuat melalui ciri khas seperti pendidikan Al-Islam, Kemuhammadiyahan dan Bahasa Arab (ISMUBA), penguasaan bahasa asing, kualitas guru, digitalisasi pendidikan, serta tata kelola yang transparan dan akuntabel.

Didik menegaskan, sekolah Muhammadiyah yang telah berstatus unggul harus mampu mempertahankan sekaligus meningkatkan capaian. Sekolah dengan predikat unggul pratama didorong untuk naik ke jenjang unggul madya atau bahkan unggul utama, sementara sekolah unggul utama diharapkan tidak mengalami penurunan prestasi.(H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *