
Sungai Finke di Australia Tengah menyimpan kehidupan yang tidak biasa. Di tengah lanskap gurun yang kering, sejumlah ikan endemik mampu bertahan hidup di kolam-kolam air yang terpisah ketika sungai berhenti mengalir.
Sungai yang oleh masyarakat Arrernte Barat disebut Larapinta ini kerap dijuluki sebagai salah satu sungai tertua di dunia. Perkiraannya bahkan mencapai 300 hingga 400 juta tahun.
Namun, usia tersebut masih menjadi perdebatan di kalangan ahli geologi. Tidak ada penanggalan langsung yang membuktikan bahwa jalur Sungai Finke telah bertahan selama ratusan juta tahun.
Finke berhulu di Pegunungan MacDonnell, Northern Territory, dan membentang sekitar 600 kilometer menuju kawasan di tepi barat Gurun Simpson. Saat ini, sungai tersebut hanya mengalir selama beberapa hari dalam setahun. Airnya bahkan kerap menghilang ke dalam pasir sebelum mencapai Danau Eyre.
Meski sebagian besar alirannya mengering, survei sistematis yang dilakukan sejak 2011 menemukan setidaknya sembilan spesies ikan di daerah aliran Sungai Finke. Tiga di antaranya memiliki kaitan khusus dengan kawasan tersebut, yakni Finke goby, Finke hardyhead, dan desert mogurnda.
Keberadaan ikan-ikan tersebut tidak terlepas dari kolam permanen yang tersebar di sepanjang lembah sungai.
Beberapa kolam berada di ngarai berbatu Pegunungan MacDonnell, termasuk Ormiston Gorge, Glen Helen Gorge, dan Redbank Gorge. Di bagian tengah Finke, survei udara bahkan menemukan 274 kolam, jauh lebih banyak dari sekitar 20 kolam yang sebelumnya tercatat dalam peta.
Sebagian kolam memiliki kedalaman hingga sembilan meter dan mampu menyimpan air selama lebih dari dua tahun meski tidak mendapat aliran sungai. Air tanah menjadi salah satu faktor yang memungkinkan kolam tersebut tetap bertahan.
Pemantauan pada 2024 mencatat 10.555 ikan. Salah satu lokasi bernama Big Salty menjadi titik dengan keragaman ikan tertinggi, yang dihuni sembilan spesies.
Kondisi ekstrem itu membuat ikan-ikan di Finke harus beradaptasi dengan perubahan air yang drastis. Ketika air terus menguap, beberapa kolam berubah menjadi sangat asin, sementara kolam lain tetap relatif tawar.
Salah satu penghuni khasnya adalah Finke goby atau Chlamydogobius japalpa. Ikan dasar ini berukuran sekitar 5,5 sentimeter dan dapat ditemukan dari kawasan hulu hingga sekitar 300 kilometer ke arah hilir.
Pada musim berkembang biak, sekitar November hingga Maret, betina menempelkan telur di celah batu. Setelah itu, ikan jantan menjaga dan mengipasi telur tersebut hingga menetas.
Ada pula desert mogurnda (Mogurnda larapintae), ikan yang dapat tumbuh hingga sekitar 13 sentimeter. Spesies ini merupakan predator penyergap yang memangsa invertebrata dan ikan lain di kolam berbatu.
Sementara itu, Finke hardyhead (Craterocephalus centralis) dapat tumbuh hingga sekitar 7,5 sentimeter dan biasanya berenang berkelompok di perairan terbuka atau di antara tumbuhan air.
Keberadaan ikan-ikan tersebut kini menghadapi sejumlah ancaman. Ternak serta hewan liar seperti kuda dan unta dapat merusak tepian sungai dan meningkatkan sedimentasi di kolam.
Spesies invasif seperti Gambusia holbrooki juga terus menyebar di Australia Tengah. Ditambah perubahan iklim dan penyebaran tumbuhan invasif, kondisi tersebut berpotensi mengurangi jumlah kolam yang mampu bertahan selama musim kering.
Finke goby menjadi salah satu spesies yang paling rentan. Ikan tersebut berstatus rentan dalam Daftar Merah IUCN dan berdasarkan aturan di Northern Territory. Populasinya di anak Sungai Palmer juga diduga telah menghilang.
Finke hardyhead tercatat berstatus hampir terancam dalam Daftar Merah IUCN, sementara desert mogurnda belum memiliki status perlindungan serupa.
Ancaman terhadap ikan-ikan tersebut menjadi semakin serius karena habitatnya terisolasi. Mereka tidak memiliki banyak kesempatan untuk berpindah ke sistem sungai lain ketika sebuah kolam mengering.
Dengan demikian, kelangsungan hidup ikan-ikan endemik Finke sangat bergantung pada keberadaan kolam-kolam air yang mampu bertahan di tengah gurun. Bagi satwa tersebut, sebuah kolam bukan sekadar genangan air, melainkan tempat perlindungan yang memungkinkan populasi mereka bertahan dari musim ke musim.
Sumber: Mongabay
