
NILAI tukar rupiah menembus level Rp18.000 terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (29/9). Di pasar spot, rupiah melemah 27 poin atau 0,15% ke level Rp18.005 per dolar AS. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI) Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, pelemahan rupiah dipengaruhi kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global, risiko fiskal, serta kenaikan harga minyak.
“Tekanan tersebut sejalan dengan kenaikan harga minyak hingga di atas US$108 per barel,” ujar Erwin dalam keterangan resmi, Selasa (29/9).
Kenaikan harga minyak terjadi di tengah belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global dan mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat lebih lanjut.
Ekspektasi tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury (UST) tenor 10 tahun ke level 5,23%, atau tertinggi sejak 2007. Kenaikan yield aset AS kemudian memberikan tekanan terhadap pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari sisi domestik, tekanan rupiah juga berasal dari meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas) oleh importir menjelang akhir triwulan III. Selain itu, terjadi arus keluar dana dari portofolio aset negara-negara emerging markets seiring dengan kenaikan yield obligasi.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI terus melakukan intervensi di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik. BI juga mengelola struktur suku bunga di pasar uang melalui penguatan strategi operasi moneter yang berorientasi pasar atau pro-market.
“BI terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai fundamentalnya,” ungkapnya.
Selain itu, efektivitas stabilisasi nilai tukar turut diperkuat dengan menjaga kecukupan likuiditas dan meningkatkan insentif untuk instrumen swap serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) lindung nilai kepada BI dalam rangka pendanaan luar negeri.
Intervensi dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
“Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar juga terus dilakukan secara intensif,” tutur Erwin.
Meski tertekan, pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang kawasan. Secara quarter-to-date (qtd), rupiah tercatat melemah terbatas sebesar 0,67%. Di sisi lain, kondisi eksternal Indonesia masih ditopang oleh cadangan devisa yang meningkat. BI mencatat cadangan devisa mencapai US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026. (H-4)
