
PERKEMBANGAN kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan derasnya arus informasi di media sosial kini tidak sekadar mengubah cara masyarakat memperoleh data. Fenomena ini telah menyentuh aspek fundamental manusia dalam memahami realitas, menentukan skala prioritas, hingga membentuk pandangan terhadap lingkungan sekitar.
Di tengah banjir informasi yang sering kali tanpa acuan fakta yang seragam, kemampuan berpikir reflektif menjadi tantangan besar. Persoalan inilah yang menjadi sorotan utama dalam gelaran USNI Lecture Series 2026 yang berlangsung di Auditorium Universitas Satya Negara Indonesia (USNI), Jakarta, pada 26 September 2026.
Mengusung tema “Indonesia as a State of Mind: Tanggung Jawab, Institusi, dan Masa Depan yang Kita Pilih”, diskusi ini menghadirkan filsuf Prof. Dr. Fransisco Budi Hardiman. Dalam paparannya yang bertajuk The Soul of Rationality, ia mengajak audiens melihat Indonesia bukan sekadar entitas geografis, melainkan sebuah cara berpikir dan pilihan kolektif mengenai masa depan.
Tantangan Algoritma dan Hilangnya “Dunia Bersama”

MI/HO—Filsuf Prof. Dr. Fransisco Budi Hardiman saat memberikan paparan di acara USNI Lecture Series 2026 yang berlangsung di Auditorium Universitas Satya Negara Indonesia (USNI), Jakarta, pada 26 September 2026.
Prof. Budi menekankan bahwa gagasan Indonesia sebagai state of mind menjadi sangat relevan saat algoritma dan AI mulai mendikte persepsi manusia. Teknologi digital menciptakan representasi dunia yang berbeda bagi setiap individu, meskipun mereka tinggal di negara yang sama.
“Dahulu, kita berbeda pendapat, tetapi masih berbagi dunia. Sekarang, kita bisa berbagi negara, tetapi tidak lagi berbagi dunia,” ujar Prof. Budi.
Ia menyebut fenomena ini sebagai hilangnya gemeinsame Welt atau “dunia bersama”, sebuah ruang di mana manusia memiliki kesamaan fakta, bahasa, dan norma untuk saling memahami.
Lebih lanjut, ia menyoroti bagaimana popularitas digital seperti likes, views, dan viralitas mulai menggeser nilai kebenaran. Hal-hal yang bersifat emosional cenderung lebih cepat menyebar dibandingkan argumen rasional yang membutuhkan proses berpikir mendalam. Dampaknya, dialog publik yang produktif menjadi semakin sulit dicapai.
Lima Pendekatan Berpikir di Era AI
Sebagai solusi menghadapi disrupsi informasi, Prof. Budi menawarkan lima kerangka berpikir yang dapat diimplementasikan oleh masyarakat:
| Cara Berpikir | Tujuan & Fungsi |
|---|---|
| Experiential Thinking | Mendorong manusia untuk kembali terhubung dengan realitas nyata di luar dunia digital. |
| Fact-Based Thinking | Menajamkan kemampuan dalam membedakan antara fakta objektif dan interpretasi subjektif. |
| Contemplative Thinking | Menyediakan ruang untuk refleksi mendalam di tengah kecepatan arus informasi. |
| Historical Thinking | Memahami konteks sejarah dan komunitas untuk memperkuat identitas kolektif. |
| Transformational Thinking | Membuka diri terhadap perbedaan dan perubahan demi kemajuan bersama. |
USNI sebagai Ruang Bertanya
Rektor USNI, Dr. Sihar P.H. Sitorus, B.S.B.A., M.B.A., menyatakan bahwa USNI Lecture Series adalah bagian dari transformasi universitas untuk membangun budaya intelektual yang kuat. Ia menegaskan bahwa acara ini bukan sekadar diskusi rutin, melainkan upaya membuka ruang berpikir bagi akademisi, praktisi, dan mahasiswa.
“Universitas tidak boleh hanya menjadi tempat dosen memberi jawaban dan mahasiswa hanya mengingatnya. Kita mau universitas, khususnya USNI, menjadi tempat belajar bertanya,” tegas Dr. Sihar.
Melalui program ini, USNI berkomitmen untuk terus menghadirkan perspektif lintas disiplin, mulai dari filsafat, sosial, budaya, hingga teknologi, guna membantu masyarakat menguji cara berpikir mereka di tengah perubahan zaman yang dibawa oleh kecerdasan buatan. (Z-1)
