Lima Inovasi Pengobatan Kanker Payudara Terbaru 2026: Imunoterapi hingga ADC
Ilustrasi.(Magnific)

PERKEMBANGAN penelitian kanker payudara terus menghasilkan pilihan baru dalam diagnosis dan pengobatan. Kemajuan tersebut tidak hanya berfokus pada menemukan obat baru, tetapi juga pada upaya menyesuaikan terapi dengan karakteristik tumor setiap pasien.

Sejumlah pendekatan seperti imunoterapi, terapi target, antibody-drug conjugate (ADC), hingga pemeriksaan DNA tumor yang beredar dalam darah kini menjadi bagian dari perkembangan penelitian kanker. Berikut lima perkembangan yang menjadi perhatian dalam pengobatan kanker payudara saat ini:

1. Imunoterapi untuk Kanker Payudara Tertentu

Imunoterapi bekerja dengan membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan melawan sel kanker. National Cancer Institute (NCI) menyebut sejumlah obat penghambat immune checkpoint telah menunjukkan manfaat pada sebagian pasien, terutama penderita kanker payudara triple-negative.

Salah satu contohnya adalah pembrolizumab yang digunakan bersama kemoterapi pada kondisi tertentu. Penelitian menunjukkan pemberian pembrolizumab sebelum operasi dan dilanjutkan setelah operasi dapat memberikan hasil lebih baik dibandingkan kemoterapi saja pada sebagian pasien kanker payudara triple-negative stadium awal.

2. Antibody-Drug Conjugate Mengantarkan Obat Langsung ke Target

Antibody-drug conjugate atau ADC merupakan pendekatan yang menggabungkan antibodi dengan obat antikanker. Antibodi dirancang untuk mengenali target tertentu pada sel kanker sehingga muatan obat dapat diarahkan langsung ke sel yang menjadi sasaran.

Pada 2026, FDA menyetujui datopotamab deruxtecan untuk pasien dewasa dengan kanker payudara triple-negative yang tidak dapat dioperasi atau telah menyebar dan tidak menjadi kandidat terapi penghambat PD-1/PD-L1. Persetujuan tersebut didasarkan pada hasil uji klinis TROPION-Breast02 yang melibatkan 644 pasien.

3. Terapi HER2 Terus Berkembang

HER2 merupakan salah satu protein yang dapat ditemukan dalam jumlah tinggi pada sebagian kanker payudara. Status HER2 menjadi faktor krusial bagi dokter dalam menentukan pilihan pengobatan.

Pada Mei 2026, FDA menyetujui trastuzumab deruxtecan (T-DXd) untuk dua penggunaan pada kanker payudara HER2-positif stadium awal. Pertama sebagai terapi sebelum operasi, dan kedua bagi pasien yang masih memiliki penyakit invasif setelah terapi sebelum operasi. Hal ini menunjukkan terapi semakin diarahkan berdasarkan karakteristik biologis tumor.

4. DNA Tumor dalam Darah (ctDNA) untuk Pemantauan Penyakit

Peneliti mengembangkan penggunaan circulating tumor DNA atau ctDNA, yaitu potongan materi genetik dari tumor yang ditemukan di dalam darah. Melalui pemeriksaan darah atau liquid biopsy, dokter berupaya mengetahui apakah masih terdapat tanda penyakit yang tersisa setelah pengobatan.

NCI saat ini mengevaluasi apakah ctDNA dapat membantu memprediksi kemungkinan kanker kembali. Meski menjanjikan, penggunaan ctDNA untuk menentukan pengobatan rutin masih terus diteliti. FDA juga telah menerbitkan panduan mengenai penggunaan ctDNA sebagai biomarker dalam pengembangan obat kanker stadium awal.

5. Terapi Hormonal yang Dipersonalisasi

Pada kanker payudara dengan reseptor hormon, terapi hormonal sangat penting. Namun, sel kanker dapat mengalami perubahan yang membuatnya resisten terhadap terapi konvensional.

Pada September 2026, FDA memberikan persetujuan dipercepat untuk camizestrant yang dikombinasikan dengan inhibitor CDK4/6 pada pasien kanker payudara HR-positif dan HER2-negatif yang mengalami mutasi ESR1. Keputusan terapi ini dipandu oleh perubahan molekuler yang terdeteksi melalui ctDNA bahkan sebelum pemeriksaan pencitraan menunjukkan perkembangan penyakit.

Catatan Penting: Berbagai perkembangan ini menunjukkan pengobatan kanker payudara semakin spesifik. Namun, tidak semua terapi cocok untuk setiap penderita. Jenis kanker, stadium, status HER2, reseptor hormon, serta kondisi kesehatan umum tetap menjadi pertimbangan utama. Pasien wajib berkonsultasi dengan dokter spesialis untuk menentukan metode yang paling sesuai. (National Cancer Institute/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *