
PUKUL enam pagi, suara mesin kapal ferry masih terdengar di Dermaga Ujung Surabaya. Tidak ada lagi antrean panjang seperti dua dekade lalu. Namun satu kapal tetap bersiap membawa penumpang menuju Kamal Madura.
Adalah Kapal Ferry Joko Tole setia melayani warga yang hendak menyebrang ke Surabaya atau sebaliknya. Petugas PT ASDP juga setia melayani setiap penumpang yang mau masuk kapal. Setiap pagi, petugas PT ASDP tetap menjalankan rutinitas yang sama. Memeriksa tiket, mengatur kendaraan, memastikan penumpang naik dengan aman, meskipun jumlah pengguna tidak lagi sebanyak masa kejayaan jalur ini.
Melihat kondisi penyeberangan Ujung-Kamal kali ini sangat kontras dibandingkan dengan era tahun 90 an hingga 2000 an. Ribuan sepeda motor dan mobil, truk dan bus berjubel. Antrean kendaraan menuju ke penyeberangan Ujung Surabaya mengular hingga Jalan Kali Mas Surabaya. Mereka rela antre berjam jam untuk bisa masuk ke pelabuhan penyeberangan Ujung.
Disisi lain jalu penumpang di lantai dua, ribuan orang juga antre masuk ke dalam ferry yang akan membawa menyebrang ke Kamal Madura. Mereka berebut khawatir tidak tidak terangkut, meski jumlah kapal mencukupi hingga 20 kapal.
Pemandangan itu terjadi setiap hari apalagi menjelang Hari Raya Idul Fitri atau Hari Raya Idul Adha yang dikenal kalangan warga Madura “Toron”. Pada masa itu, penyeberangan Ujung-Kamal menjadi salah satu jalur utama mobilitas masyarakat Madura menuju Surabaya.
Ditambah pedagang kaki lima di sekitar penyeberangan, menambah kepadatan penyeberangan. Bahkan, pihak PT ASDP memaksa mereka untuk dilokalisasi agar tidak mengganggu lalu lintas penyeberangan.
Jalur Penyebarangan Utama
Pada masanya, penyeberangan Ujung-Kamal menjadi salah satu jalur penyeberangan utama yang menghubungkan Surabaya dan Madura. Tak mengherankan bila kepadatan setiap hari terjadi, bukan hanya motor, bus atau truk, termasuk sepeda motor dan kendaraan pribadi rela antri berjam jam untuk masuk ke kapal ferry.
Petugas dari PT ASDP yang bertanggung jawab terhadap jalur penyeberangan Ujung-Kamal jumlah mencapai puluhan petugas. Mereka harus membagi dalam tiga shift, pagi, sore dan malam. Ini bukti padatnya lalu lintas penyeberangan Ujung-Kamal.
Sejak berkembang pada masa Hindia Belanda sekitar tahun 1913, penyeberangan Ujung-Kamal menjadi jalur penting yang menghubungkan aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat Surabaya-Madura. Tercatat kapal ferry yang melayani terus bertambah sampai mencapai 20 kapal ferry dari berbagai perusahaan swasta, termasuk milik PT ASDP Surabaya.
Pemandangan itu kini tidak bisa ditemukan lagi, denyut nadi penyeberangan Ujung-Kamal teras sunyi. Tidak ada lagi antrean kendaraan maupun antrian penumpang menuju Kapal Ferry dari madura ke Surabaya atau sebaliknya.
Aktivitas penyeberangan berlangsung pada pagi hingga sore hari. Setelah jadwal keberangkatan terakhir pukul 19.00 WIB, kawasan dermaga menjadi lebih lengang dibandingkan masa sebelumnya. Adalah Jembatan Surabaya-Madura yang resmi berdiri Tahun 2009 menjadi faktor utama meredupnya aktivitas penyeberangan Ujung-Kamal. Awal mula berdiri masih ramai namun perlahan banyak kapal swasta memilih berhenti beroperasi dan mengalihkan ke jalur lain.
“Tapi kami harus tetap melayani untuk masyarakat yang berada di wilayah Kamal menuju Surabaya atau sebaliknya. Pelayanan yang kami berikan tidak pernah berubah, hanya waktu, jumlah kapal saja yang berkurang, pelayanan tetap menjadi prioritas,” kata Manager PT ASDP Cabang Surabaya Reza Pahlevi.
Dilayani Kapal Ferry Joko Tole
Sebelum Suramadu beroperasi pada 2009, puluhan kapal ferry melayani ribuan kendaraan setiap hari. Kini, aktivitas itu menyusut dan hanya satu kapal yang beroperasi dengan jadwal terbatas.
Jumlah kapal yang kini beroperasi hanya satu kapal dengan pengaturan waktu dari jam 06:00 WIB hingga 19:00 WIB dengan trip Ujung Surabaya menuju Kamal Madura. Dari tiga dermaga kini hanya satu dermaga yang beroperasi.
Kapal Ferry Joko Tole yang melayani penyebrangan kapasitas 150 penumpang, kini yang naik tidak lebih dari 50 orang. Demikian pula kendaraan bisa dihitung dengan jari. “Jumlahnya turun drastis,” katanya.
Mereka yang menyeberang adalah warga dari kawasan kamal yang hendak ke Surabaya atau warga Surabaya di Ujung yang ada keperluan ke kamal. Namun, mereka yang hendak menuju Sampang, Pamekasan atau Sumenep memilih jalur Jembatan Suramadu, lebih dekat.
Menurunnya jumlah penumpang dan sepinya penyebrangan, tidak menyurutkan PT ASDP memberikan pelayanan bagi masyarakat yang membutuhkan jasa penyeberangan dengan kapal ferry. “Apapun kondisinya jangan menyurutkan pelayanan yang diberikan ke masyarakat,” kata Reza.
Secara bisnis mungkin tidak lagi seperti dulu, tetapi secara pelayanan publik jalur ini masih memiliki fungsi. Warga tetap memiliki hak untuk dilayani menyebrang ke Surabaya atau ke Madura. Negara selalu hadir disetiap warga yang membutuhkan, walau kondisinya tidak sama dengan sebelumnya. “Ketika nilai komersial menurun, fungsi pelayanan tetap kami pertahankan,” ungkapnya.
Tarif penyeberangan saat ini sebesar Rp8.500 untuk penumpang dan Rp65.000 untuk kendaraan. Dengan jumlah pengguna yang menurun, pola operasional penyeberangan juga mengalami penyesuaian.
Tapi, PT ASDP tetap mengoperasikan jalur Ujung-Kamal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang masih menggunakan layanan tersebut. Jalur ini telah menjadi bagian dari hubungan transportasi Surabaya-Madura selama lebih dari satu abad.
Warga Madura yang tinggal di kawasan kamal atau di Ujung Surabaya, merasakan manfaatnya masih tetap dipertahankannya penyebrangan ini. Bila saja, mereka harus melalui jembatan Suramadu ongkos yang dikeluarkan lebih mahal.
Itong Suwanto warga Ujung yang setiap hari harus menyebrang ke Kamal Madura untuk berjualan, merasakan manfaatnya penyebrangan ini. Dirinya memiliki keinginan agar tetap dipertahankan sampai kapanpun.
Billa dihentikan, dan harus melalui Jembatan Suramadu. Itong mengaku tidak bisa membayangkan berapa ongkos yang harus dikeluarkan.
“Kalau ke Suramadu ongkosnya mahal, tempat berjualan saya di Kamal lebih dekat dari Ujung, kalau lewat Suramadu memutarnya jauh sekali. Kami yang memanfaatkan kapal ferry di Ujung bisa memahami tidak ada untungnya bagi operator kapal, selain tiket murah juga jumlah penumpang turun drastis. Tapi, kami memiliki hak untuk tetap dilayani. Terima kasih PT ASDP yang tetap memberikan pelayanan terbaiknya untuk kami,” katanya.
Bagi operator kapal melayani Ujung-Kamal sebagai bentuk pengabdian kepada negara. Dari segi keuntungan bisnis tidak memberikan keuntungan signifikan, tapi operator kapal memiliki tanggungjawab untuk melayani masyarakat yang masih membutuhkan jasa penyeberangan. “Kami tidak lagi mengais keuntungan tapi, lebih pada memberikan layanan ke masyarakat yang membutuhkan jasa penyeberangan Ujung-Kamal,” kata Rahmat salah satu operator kapal di Surabaya.
Akhirnya, pukul 19.00 WIB, suara mesin Kapal Ferry Joko Tole kembali terdengar meninggalkan Dermaga Ujung menuju Kamal. Tidak ada lagi antrian panjang kendaraan seperti masa kejayaannya. Namun kapal itu masih membawa penumpang yang memiliki tujuan, pekerjaan, dan kebutuhan yang tidak bisa digantikan oleh jalur lain.
Itong Suwanto harus kembali ke Surabaya melalui dermaga Kamal, Madura. Keberadaan kapal ferry masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Sementara bagi PT ASDP, mempertahankan jalur ini bukan hanya soal jumlah penumpang, tetapi memastikan layanan transportasi tetap tersedia bagi masyarakat yang masih membutuhkan.
Kini Ujung-Kamal mungkin kehilangan keramaiannya, tetapi belum kehilangan perannya. Satu kapal masih berlayar, membawa cerita bahwa sebuah layanan publik tetap berarti selama masih ada masyarakat yang bergantung padanya.(H-2)
