
KEPERGIAN Guruh Soekarnoputra atau Guruh Soekarno membawa duka bagi orang-orang yang pernah tumbuh bersama karya dan panggung yang dibangunnya. Salah satunya Soraya Haque yang mengenang sosok tersebut melalui unggahan di Instagram. Bagi Soraya, Guruh telah menjadi bagian penting dalam kehidupannya sejak remaja.
Guruh dan Swara Maharddhika menjadi awal bagi Soraya untuk mengenal Indonesia melalui tari, musik, pertunjukan, dan keberagaman budaya. Pengalaman tersebut kemudian turut membentuk kecintaannya terhadap seni dan Tanah Air.
Soraya mengenang perjalanannya bersama Swara Maharddhika bermula ketika dirinya masih berusia 14 tahun. Pada 1978, orang tuanya bertemu Fatmawati Soekarno dalam penerbangan menuju Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Dari pertemuan tersebut, Soraya kemudian diajak mengikuti seleksi Swara Maharddhika.
Dengan bekal kemampuan bermain piano klasik dan tari Bali, ia mengikuti seleksi hingga akhirnya bergabung dengan kelompok tersebut. Selama bertahun-tahun, latihan yang dijalaninya turut membentuk mental, mengasah kemampuan berkesenian, menghidupkan insting bermusik, serta menanamkan rasa Indonesia.
Soraya juga mengenang Guruh Soekarno sebagai pemimpin, pelatih, sekaligus mentor bagi anak-anak muda. Pengalaman bersama Swara Maharddhika menjadi bagian yang membentuk cara pandangnya terhadap seni dan Indonesia.
Pertemuan Terakhir
Pertemuan terakhir Soraya dengan Guruh Soekarno berlangsung pada 27 Agustus 2026, saat ia menjadi pembawa acara dalam peresmian paduan suara Swara Maharddhika. Keduanya sempat berfoto bersama. Guruh kemudian memeluk Soraya dan menyampaikan keinginannya untuk berdiskusi mengenai perempuan Indonesia serta penggunaan konde yang mulai ditinggalkan.
Namun, rencana tersebut belum sempat terwujud. Soraya mengungkapkan, kondisi Guruh Soekarno semakin lemah hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Sehari setelah pertemuan itu, pada 28 Agustus 2026, Soraya mengunggah dokumentasi kegiatan Untuk Indonesia yang digelar sehari sebelumnya untuk menggalang dana bagi anak-anak penyintas kanker. Kegiatan tersebut menjadi salah satu rangkaian terakhir yang mempertemukan Soraya dengan Guruh.
Setelah Guruh Soekarno meninggal dunia pada usia 73 tahun, Soraya kembali mengenang sosok yang telah menjadi bagian dari kehidupannya sejak remaja. Dalam unggahan dukanya, ia menyampaikan bahwa janji untuk berdiskusi mengenai perempuan Indonesia dan konde belum sempat ditunaikan. Meski demikian, semangat untuk memperjuangkan identitas perempuan Indonesia akan tetap ia lanjutkan dalam kehidupan sehari-hari.
Soraya juga memanjatkan doa bagi sosok yang dikenangnya sebagai kakak, guru, dan mentor. Baginya, semangat yang ditanamkan Guruh Soekarno sejak bersama Swara Maharddhika akan tetap hidup melalui tindakan yang ia jalankan. (H-4)
