
KEBUTUHAN dukungan kesehatan menjadi salah satu perhatian dalam masa tanggap darurat dan pemulihan pascabencana. Selain penanganan langsung, masyarakat terdampak juga membutuhkan asupan nutrisi untuk membantu menjaga kondisi tubuh selama berada dalam situasi krisis.
Di tengah kondisi tersebut, PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) menyalurkan bantuan suplemen vitamin bagi masyarakat terdampak bencana gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) serta kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan.
Bantuan yang disalurkan mencapai puluhan ribu butir suplemen vitamin. Untuk masyarakat terdampak karhutla di Kalimantan, bantuan mencakup 12.750 butir PYFAHEALTH Multivitamin. Sementara untuk korban bencana di NTT, disalurkan 18.430 butir D3-400 Tab dan 1.000 butir Feroplus Tablet Effervescent.
Direktur PYFA, Bedjo Stefanus mengatakan pemenuhan mikronutrisi esensial menjadi salah satu kebutuhan yang perlu diperhatikan selama masa tanggap darurat, terutama bagi kelompok masyarakat yang berada dalam kondisi rentan.
“Untuk Nusa Tenggara Timur. Untuk Kalimantan. Untuk Indonesia. PYFA Hadir. Di tengah situasi yang tidak mudah, di mana puluhan ribu saudara kita terancam infeksi pernapasan akibat kabut asap dan ribuan pengungsi rentan mengalami krisis imunitas, kami hadir mengintervensi melalui penyaluran lebih dari 23 ribu butir vitamin bagi masyarakat terdampak. Ini adalah komitmen nyata kami untuk memastikan mereka yang kehilangan dan mereka yang sedang bertahan tetap memiliki perlindungan kesehatan yang kuat. Kami berharap negeri iniakan selalu ada dalam lindungan Sang Pencipta. Sehat-sehat, Indonesia,” ujar Bedjo dikutip Rabu (23/9).
Hingga saat ini, nilai bantuan yang disalurkan PYFA disebut mencapai lebih dari Rp75 juta. Perusahaan juga menyatakan akan terus memantau perkembangan pemulihan pascabencana dan berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan bantuan dapat menjangkau masyarakat yang masih membutuhkan.
Koordinasi tersebut melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), aparat TNI, tenaga kesehatan setempat, serta sejumlah pihak swasta dan organisasi seperti Klinik Simas Sehat, apotek, dan Yayasan Tzu Chi, bersama komunitas relawan.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, krisis asap akibat Karhutla selama Juli hingga Agustus 2026 menyebabkan sedikitnya 50.891 orang mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Rilis tersebut juga mengacu pada pedoman Nutrition in Emergencies dari World Health Organization (WHO), yang menyebut kondisi krisis kemanusiaan dapat meningkatkan risiko malnutrisi dan penyakit sekunder. WHO merekomendasikan intervensi cepat berupa suplementasi mikronutrien, termasuk vitamin D, vitamin A, dan zat besi, bagi populasi yang mengalami keterbatasan akses terhadap nutrisi. (E-4)
