
KABUPATEN Bandung kini tengah menghadapi tantangan ganda akibat musim kemarau yang berkepanjangan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mencatat wilayah ini menjadi daerah kedua dengan angka kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tertinggi di Jawa Barat.
Bupati Bandung, Dadang Supriatna, mengungkapkan bahwa hingga saat ini jumlah peristiwa karhutla di wilayahnya telah mencapai 251 kejadian. Total luas area yang terdampak mencapai 43,13 hektare, di mana objek yang terbakar mencakup lahan kosong, semak belukar, hingga merembet ke rumah tinggal warga.
“Meningkatnya angka kejadian membutuhkan dukungan sarana yang memadai agar petugas dapat merespons laporan masyarakat secara cepat,” tegas Dadang.
Menurutnya, tantangan utama dalam penanganan karhutla di Kabupaten Bandung adalah kondisi geografis. Beberapa wilayah seperti Kecamatan Kertasari dan Pacet memiliki lokasi yang jauh dan sulit dijangkau oleh layanan pemadam kebakaran. Oleh karena itu, diperlukan penguatan sarana pemadam yang mempertimbangkan luas wilayah serta jarak tempuh guna mempercepat respons di lokasi kejadian.
Data Karhutla Jawa Barat
Secara akumulatif, BPBD Jawa Barat mencatat telah terjadi 229 kali peristiwa karhutla di seluruh provinsi dengan total luas lahan terdampak mencapai 522 hektare. Dalam pemetaan kerawanan, Kabupaten Sumedang menempati posisi pertama daerah paling sering mengalami karhutla, disusul oleh Kabupaten Bandung, Kabupaten Subang, dan Kabupaten Majalengka.
Ancaman Krisis Air Bersih
Selain ancaman api, musim kemarau juga memicu krisis air bersih di sejumlah titik di Kabupaten Bandung. Penurunan debit sumber air mulai dirasakan secara signifikan, terutama untuk layanan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM).
Bupati Dadang menyebutkan bahwa sumber air untuk SPAM di wilayah Bandung Selatan telah mengalami penurunan hingga sekitar 50%. Kondisi ini menuntut langkah mitigasi cepat agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.
“Kita harus lakukan langkah antisipasi wilayah mana saja yang rawan krisis air bersih sebelum kondisi semakin parah,” pungkasnya. (h-2)
