
BENCANA banjir bandang atau galodo yang menerjang Solok, Sumatra Barat (Sumbar), pada 21 September 2026 tidak hanya dipicu hujan lebat. Curah hujan dengan akumulasi sekitar 94 milimeter per hari menjadi pemicu awal, sedangkan kondisi lereng, kejenuhan tanah, longsoran, hingga ketersediaan material lepas di wilayah hulu. Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan, hujan lebat membuat suplai air ke daerah aliran sungai (DAS) meningkat dengan cepat. Ketika kemampuan tanah menyerap air terlampaui, limpasan permukaan meningkat dan air terkonsentrasi menuju alur sungai.
“Curah hujan 94 mm/hari adalah pemicu, tetapi untuk menyimpulkan mengapa alirannya berkembang menjadi galodo (banjir bandang) yang membawa begitu banyak material, perlu dianalisis pula kondisi DAS/hulu,” kata Daryono, Rabu (23/9).
Menurut Daryono, kondisi topografi wilayah hulu Solok yang berupa perbukitan dan pegunungan dengan lereng relatif curam dapat mempercepat aliran permukaan. Kemiringan lereng juga memberikan energi gravitasi yang memungkinkan air mengerosi dan mengangkut tanah, batu, serta kayu menuju alur sungai.
Faktor lain, sambung dia, ialah kejenuhan tanah akibat hujan yang berlangsung beberapa jam. Air yang terus mengisi pori-pori tanah meningkatkan tekanan air pori dan menurunkan kekuatan geser tanah. Kondisi tersebut membuat lereng lebih mudah mengalami longsor. Material hasil longsoran kemudian dapat masuk ke alur sungai dan mengubah karakter aliran.
“Galodo (banjir bandang) tidak lagi hanya berupa air, melainkan campuran air dengan lumpur, batu, kayu, dan material tanah yang memiliki daya rusak lebih besar,” imbuh Daryono.
Ketersediaan material lepas di sepanjang alur sungai juga dapat memperbesar volume galodo. Endapan pasir, kerikil, bongkah, kayu, maupun material longsoran yang sebelumnya berada di dasar atau tebing sungai dapat kembali termobilisasi ketika debit meningkat secara mendadak.
Di sisi lain, air dari berbagai lereng dan anak sungai akhirnya berkumpul di lembah dan alur sungai utama. Pada DAS yang curam, waktu konsentrasi limpasan relatif singkat sehingga debit dapat meningkat dengan cepat.
Daryono mengatakan, kondisi tutupan lahan juga perlu diperiksa dalam analisis bencana tersebut. Berkurangnya vegetasi atau terganggunya permukaan tanah dapat mengurangi kemampuan DAS menahan air, sekaligus meningkatkan limpasan dan erosi hingga mengakibatkan banjir bandang di Solok.
“Namun, kontribusi perubahan tutupan lahan terhadap galodo Solok belum dapat langsung disimpulkan. Hal itu harus dibuktikan melalui data penggunaan lahan dan survei kondisi DAS di lapangan,” bebernya. (H-4)
