
KISAH inspiratif datang dari lintasan balap sepeda Asian Games di Nagoya, Jepang. Fariba Hashimi, atlet sepeda asal Afghanistan, berhasil mengukir sejarah dengan meraih medali perak pada nomor women’s road race, Selasa (22/9). Kemenangan ini bukan sekadar prestasi olahraga, melainkan simbol perlawanan terhadap penindasan hak-hak perempuan di tanah kelahirannya.
Atlet berusia 23 tahun ini memiliki masa lalu yang penuh perjuangan. Sebelum melarikan diri dari Afghanistan pasca kembalinya kekuasaan Taliban pada 2021, Hashimi harus menyamar sebagai laki-laki agar bisa berlatih sepeda.
Di bawah pembatasan ketat, ia terpaksa mengenakan pakaian pria dan menggunakan beberapa lapis masker untuk menutupi identitasnya demi menghindari serangan fisik maupun lemparan batu di jalanan Provinsi Faryab.
“Saya lahir di negara di mana perempuan yang bermimpi akan diserang, dan saya sangat bahagia bisa melawan hal itu,” ujar Hashimi. Ia berharap medali ini menjadi pesan ketangguhan bagi jutaan perempuan Afghanistan lainnya yang masih berjuang meraih kebebasan.
Perjalanan Karier dan Prestasi
Hashimi mulai menekuni dunia balap sepeda pada usia 15 tahun, mengikuti jejak kakaknya, Yulduz Hashimi. Berkat bantuan mantan juara dunia asal Italia, Alessandra Cappellotto, ia kini menetap dan berlatih secara profesional di Italia. Sebelum meraih perak pada Selasa lalu, ia juga mencatatkan performa impresif di nomor individual time trial.
| Detail Informasi | Keterangan |
|---|---|
| Nama Atlet | Fariba Hashimi |
| Asal Negara | Afghanistan (Berbasis di Italia) |
| Prestasi Asian Games | Medali Perak (Women’s Road Race) |
| Hasil Time Trial | Peringkat ke-7 (Minggu) |
| Riwayat Olimpiade | Peserta Olimpiade Paris 2024 |
Menatap Los Angeles 2028
Meski telah mencapai podium di tingkat Asia, ambisi Hashimi tidak berhenti di sini. Setelah berkompetisi di Olimpiade Paris 2024 bersama kakaknya, ia kini membidik target yang lebih tinggi pada Olimpiade Los Angeles 2028 mendatang.
Bagi Hashimi, setiap kayuhan pedal adalah representasi dari kebebasan yang sempat dirampas. “Saya tidak sendirian. Saya tahu di belakang saya ada jutaan wanita dari berbagai negara yang memiliki mimpi yang sama dan mereka berdiri bersama saya,” pungkasnya dengan penuh optimisme. (bbc/Z-1)
