
MEDIA sosial tengah dibanjiri tren wajah tanpa cela dan rutinitas glass skin yang rumit di kalangan remaja. Banyak dari mereka lebih memprioritaskan saran dari pemengaruh (influencer) melalui video Get Ready With Me (GRWM) dibandingkan saran dari profesional medis.
Namun, apakah remaja benar-benar membutuhkan rutinitas perawatan kulit yang berlapis-lapis? Dr. Jonathan Kentley, seorang konsultan dermatolog, menyatakan kekhawatirannya terhadap pengaruh media sosial yang terus-menerus menampilkan standar kecantikan yang tidak realistis.
“Saya menangani ribuan pasien dan belum pernah melihat seseorang dengan ‘glass skin’. Saya rasa itu tidak ada. Itu hanyalah gambar yang difilter secara berlebihan yang membuat anak-anak berpikir bahwa hal itu bisa dicapai, padahal tidak,” tegas Dr. Kentley.
Memahami Kondisi Normal Kulit Remaja
Menurut Dr. Kentley, pori-pori yang terlihat, komedo, noda, pigmentasi, kemerahan, dan bekas luka adalah hal yang sangat normal bagi kulit remaja. Data menunjukkan bahwa lebih dari 80% remaja berusia 13 hingga 18 tahun mengalami jerawat.
Dr. Zainab Laftah, juga seorang konsultan dermatolog, menjelaskan bahwa sebagian besar masalah kulit selama masa pubertas berkaitan dengan hormon testosteron yang memicu peningkatan produksi minyak. Meskipun lebih umum terjadi pada laki-laki, remaja perempuan juga memiliki hormon ini dan mengalami gejala serupa.
“Hal ini, bersama dengan folikel rambut yang tersumbat dan peradangan, menyebabkan komedo hitam, komedo putih, dan bintik-bintik meradang. Jerawat sangat umum, normal, dan dapat diobati,” ujar Dr. Laftah.
Lima Tips Ahli untuk Perawatan Kulit Remaja
Dr. Zainab Laftah dan Dr. Jonathan Kentley membagikan lima tips utama untuk merawat kulit remaja secara efektif:
- Jaga Rutinitas Tetap Sederhana: Anda hanya butuh tiga produk dasar: pembersih yang lembut (gentle cleanser), pelembap bebas pewangi, dan tabir surya spektrum luas minimal SPF 30.
- Lebih Banyak Produk Bukan Berarti Lebih Baik: Rutinitas rumit dengan eksfoliasi sering atau asam kuat dapat mengiritasi kulit muda yang penghalang kulitnya (skin barrier) masih berkembang. Penggunaan berlebihan bahan aktif seperti retinoid dan asam hidroksi telah memicu lonjakan kasus dermatitis perioral pada remaja.
- Tidur Cukup dan Diet Seimbang: Kurang tidur meningkatkan hormon stres kortisol yang memicu jerawat. Selain itu, diet tinggi karbohidrat (nasi putih, pasta), gula tinggi, dan protein whey juga dikaitkan dengan kekambuhan jerawat.
- Jangan Memencet Jerawat: Memencet jerawat berisiko mendorong peradangan lebih dalam ke kulit, yang menyebabkan bekas luka dan perubahan warna. Dr. Laftah menyarankan penggunaan pimple patch hidrokoloid untuk melindungi area tersebut agar tidak disentuh.
- Konsultasi dengan Ahli: Jika mengalami jerawat kistik yang menyakitkan atau menetap, segera temui dokter umum atau dermatolog untuk mendapatkan perawatan medis yang tepat.
Kulit laki-laki cenderung lebih berminyak dan sering mengalami iritasi akibat mencukur. Dr. Kentley menyarankan untuk mencukur setelah mandi saat kulit masih hangat, menggunakan krim cukur yang melumasi, dan selalu mencukur searah dengan tumbuhnya rambut untuk menghindari peradangan folikel (folikulitis).
Para ahli memperingatkan agar remaja tidak terjebak dalam penggunaan bahan aktif dewasa yang justru dapat merusak pertahanan alami kulit mereka. Jika terjadi masalah kulit yang parah, bantuan profesional jauh lebih berharga daripada mengikuti tren viral di media sosial. (BBC/I-2)
