
KLUB Liga Arab Saudi, Al-Taawoun, dijatuhi sanksi berat berupa larangan menggelar dua pertandingan kandang dengan penonton. Keputusan ini diambil otoritas sepak bola setempat setelah pendukung klub tersebut melakukan tindakan tidak terpuji dengan mengejek gelandang Al-Hilal, Ruben Neves, terkait kematian sahabat sekaligus rekan setimnya, Diogo Jota.
Selain hukuman pengosongan tribun, Al-Taawoun juga diwajibkan membayar denda sebesar 100.000 Saudi Riyal atau setara dengan kurang lebih Rp418 juta (kurs saat ini). Insiden memuakkan tersebut terjadi saat Al-Hilal bertandang ke markas Al-Taawoun pada Sabtu (12/9) lalu, dengan tim tamu berhasil menang telak 6-0.
Provokasi yang Melampaui Batas
Berdasarkan laporan pertandingan, sekelompok suporter tuan rumah berulang kali meneriakkan nama “Jota” ke arah Ruben Neves sebelum laga dimulai. Aksi ini bukan sekadar psy-war biasa, melainkan serangan personal yang sangat sensitif bagi pemain asal Portugal tersebut.
Diogo Jota, penyerang Liverpool, meninggal dunia dalam kecelakaan mobil tragis pada usia 28 tahun pada Juli tahun lalu. Jota dan Neves dikenal memiliki hubungan persahabatan yang sangat erat sejak keduanya bermain bersama di Wolverhampton Wanderers dan timnas Portugal.
Kedekatan mereka sangat mendalam; Neves bahkan menjadi salah satu pengusung jenazah di pemakaman Jota. Sebagai bentuk penghormatan abadi, Neves kini mengenakan nomor punggung 21 di timnas Portugal, nomor yang identik dengan Jota, dan memiliki tato di betisnya yang menggambarkan momen pelukan hangat antara dirinya dan mendiang sahabatnya tersebut.
Usai pertandingan, Ruben Neves tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya terhadap perilaku suporter lawan. Dalam wawancara dengan awak media, ia melontarkan komentar pedas yang menyinggung sisi kemanusiaan para pelaku.
“Saya hanya berharap mereka tidak pergi berdoa setelah apa yang mereka lakukan hari ini,” ujar Neves dengan nada getir.
Kecaman juga datang dari megabintang Al-Nassr, Cristiano Ronaldo. Sebagai rekan setim Jota di timnas Portugal, Ronaldo merasa tindakan tersebut sudah sangat keterlaluan.
Ia secara terbuka menyerukan agar otoritas liga memberikan hukuman larangan menonton seumur hidup bagi para penggemar yang terlibat dalam nyanyian ejekan tersebut.
Pernyataan Resmi Al-Taawoun:
“Perilaku seperti itu sama sekali tidak dapat diterima dan tidak mewakili klub, penggemar kami, atau nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh klub. Kompetisi olahraga tidak dapat menjadi pembenaran untuk menghina, meremehkan, atau menindas orang lain dengan mengorbankan perasaan siapa pun.”
Dampak Sanksi bagi Al-Taawoun
Hukuman dua laga tanpa penonton ini menjadi kerugian besar bagi Al-Taawoun, baik dari sisi dukungan moral di lapangan maupun pendapatan tiket. Pihak klub menyatakan penyesalan mendalam dan menegaskan bahwa rivalitas di lapangan hijau seharusnya tidak mencederai empati terhadap tragedi kemanusiaan.
Kasus ini menjadi pengingat keras bagi seluruh elemen suporter di Liga Arab Saudi untuk menjaga etika dan sportivitas, terutama di tengah sorotan global yang kini tertuju pada kompetisi tersebut. (bbc/Z-1)
