Houthi Kuasai Bab al-Mandab, AS Pilih Tahan Diri daripada Intervensi Militer
Houthi.(Al Jazeera)

PEJABAT Amerika Serikat dilaporkan bertemu dengan perwakilan kelompok Houthi di Kedutaan Besar AS di Muscat, Oman, menyusul keberhasilan gerakan yang didukung Iran tersebut merebut ribuan kilometer persegi wilayah dalam hitungan hari. Dengan penguasaan pulau-pulau strategis dan garis pantai Laut Merah, Houthi kini memperketat cengkeraman mereka di Selat Bab al-Mandab, jalur krusial bagi pengiriman global dan pasokan energi dunia.

Dalam pembicaraan tersebut, Houthi memberikan jaminan kepada pejabat AS bahwa mereka tidak berniat menyerang kapal-kapal AS di Laut Merah. Mereka menegaskan bahwa pembatasan hanya akan berlaku bagi kapal-kapal yang terkait dengan Arab Saudi.

Namun, janji itu tetap menyisakan ancaman gangguan serius pada dua rute pelayaran terpenting dunia. Soalnya, lalu lintas di Selat Hormuz juga telah terhambat selama enam bulan terakhir.

Tekanan Arab Saudi dan Penolakan Trump

Seiring meluasnya wilayah kekuasaan Houthi di Yaman barat daya, laporan dari Axios menyebutkan bahwa Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), menghubungi Presiden Donald Trump sebanyak dua kali pekan lalu. MBS mendesak AS untuk meluncurkan serangan udara terhadap kelompok tersebut, tetapi Trump menolak permintaan tersebut.

Meskipun Laksamana Brad Cooper, komandan Komando Pusat AS (Centcom), melakukan perjalanan ke Riyadh untuk koordinasi mendesak, Washington tampaknya lebih memilih untuk meningkatkan dukungan logistik bagi Arab Saudi daripada terlibat secara militer langsung. Trump meyakinkan MBS bahwa semua akan berjalan baik, tetapi tidak memberikan komitmen militer spesifik atau jaminan eksplisit untuk membela infrastruktur energi Saudi.

Krisis Kepercayaan pada Keamanan AS

Keengganan Washington untuk bertindak dinilai dapat memperdalam kekhawatiran Arab Saudi terhadap hubungan keamanan jangka panjangnya dengan AS. Simon Mabon, profesor hubungan internasional di Universitas Lancaster, menyatakan bahwa ini contoh lain kegagalan AS sebagai penjamin keamanan kawasan.

Kondisi itu mendorong Riyadh untuk mendiversifikasi portofolio keamanannya. Selain kesepakatan pertahanan dengan Pakistan tahun lalu, bulan lalu Riyadh menandatangani Perjanjian Pertahanan Bersama Mekah dengan Pakistan dan Turkiye. Perjanjian ini menetapkan bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu dari ketiga negara tersebut akan dianggap sebagai serangan terhadap semua.

Mengapa AS Memilih Menepi?

Ada beberapa faktor utama yang membuat Washington enggan membuka front baru di Yaman:

  • Keterlibatan dengan Iran: AS sudah terjebak dalam konflik yang mahal dan intensif dengan Iran selama lebih dari enam bulan tanpa rute penyelesaian yang jelas.
  • Risiko Politik Domestik: Menjelang pemilihan paruh waktu pada November mendatang, membuka perang selamanya yang baru akan sangat tidak populer.
  • Stok Senjata yang Menipis: Laporan internal menunjukkan persediaan amunisi kritis, seperti rudal jarak jauh dan pencegat Patriot, mulai menipis. Laporan pengawas Pentagon mengungkapkan bahwa empat bulan pertama perang menelan biaya US$33 miliar (sekitar Rp508 triliun).

Dampak Ekonomi Global

Beberapa analis berpendapat bahwa gangguan di Bab al-Mandab mungkin lebih merugikan Tiongkok daripada AS, mengingat ketergantungan Beijing pada impor energi melalui Laut Merah. Namun, para ahli memperingatkan bahwa dampak ekonomi tidak akan terkotak-kotak secara geopolitik.

Kenaikan biaya transportasi dan energi pada akhirnya akan membebani konsumen AS. “Potensi penutupan Bab al-Mandeb dan serangan terhadap pipa Saudi akan memukul sekutu utama AS lebih keras daripada Tiongkok,” ujar Mabon. Dengan kondisi militer yang sudah terbentang jauh di Iran, Washington kini menghadapi kenyataan bahwa memasuki perang lain di Timur Tengah membawa risiko ekonomi dan elektoral yang terlalu besar. (Al Jazeera/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *