
Pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) di sektor kesehatan Indonesia terus berkembang seiring kebutuhan terhadap layanan medis yang lebih terintegrasi, berbasis data, dan mampu mendukung deteksi risiko lebih dini.
Perkembangan ini membuka peluang bagi teknologi untuk membantu tenaga kesehatan mengolah informasi medis yang semakin kompleks, dengan tetap menempatkan keputusan klinis pada tenaga profesional.
Rhemedi Medical Services, platform layanan kesehatan dan teknologi berbasis di Jakarta, memperkuat langkah tersebut setelah ditetapkan sebagai OpenAI Select Partner dalam OpenAI Partner Network. Status tersebut membuka ruang bagi Rhemedi untuk mengembangkan dan menerapkan solusi AI bersama OpenAI dengan fokus pada sektor kesehatan.
Sebagai OpenAI Select Partner, Rhemedi Medical Services akan terus bekerja bersama OpenAI untuk membantu organisasi membangun dan menerapkan solusi AI secara bertanggung jawab dan efektif.
Kolaborasi ini akan membantu Rhemedi Medical Services memanfaatkan kecerdasan tertinggi OpenAI GPT (saat ini GPT-6 Astra) secara lebih luas dalam platformnya, menggunakan penalaran lebih mendalam dalam kemampuan penggunaan AI untuk menyelesaikan alur kerja yang lebih kompleks.
Rhemedi akan berfokus pada penerapan kapabilitas tersebut di bidang kesehatan, termasuk preventive medicine, precision diagnostics, imaging, dan Medical Intelligence, dengan perhatian khusus pada penerapan AI yang bertanggung jawab dalam layanan kesehatan di Indonesia.
Founder dan Clinical Governance Lead Rhemedi Medical Services, dr Rheza Maulana Syahputra Sp Rad mengatakan AI ditempatkan sebagai alat pendukung untuk membantu masyarakat dan tenaga kesehatan memahami informasi kesehatan secara lebih mendalam.
“Bagi Rhemedi, kecerdasan artifisial bukanlah tujuan akhir. AI adalah alat untuk membantu masyarakat memahami kesehatan secara lebih mendalam, mengenali risiko lebih dini, dan mengambil tindakan yang lebih tepat, sementara tanggung jawab klinis tetap berada pada dokter dan tenaga kesehatan,” kata Rheza, Jumat (18/9).
Salah satu inisiatif yang dikembangkan adalah Rhemedi Medical Intelligence Assistant (RHE-INA), platform Medical Intelligence dengan tata kelola dokter. Sistem ini dirancang untuk membantu menstrukturkan informasi klinis yang terfragmentasi, termasuk data laboratorium, dokumen medis, imaging, dan secara bertahap data genomik.
Informasi tersebut dapat ditinjau tenaga kesehatan melalui alur kerja yang terkelola dan dapat diaudit. Dalam penerapannya, AI tidak mengambil alih diagnosis maupun keputusan terapi, yang tetap menjadi kewenangan tenaga kesehatan berkualifikasi.
RHE-INA juga telah diimplementasikan melalui RHE-NU, pendamping kesehatan berbasis AI yang digunakan untuk mendukung pelayanan kesehatan dalam kegiatan mass gathering berskala besar di Indonesia pada akhir Agustus lalu.
Implementasi tersebut memberikan pengalaman dalam AI-assisted intake, navigasi layanan kesehatan, eskalasi klinis, serta integrasi teknologi dengan tenaga medis.
Rhemedi juga mengembangkan Medical Intelligence dengan mengintegrasikan data imaging dan genomik melalui pendekatan radiogenomics.
Teknologi tersebut diarahkan untuk membantu klinisi mengolah data dalam jumlah besar dan menghubungkannya dengan informasi klinis serta bukti ilmiah guna mendukung pemahaman kondisi kesehatan dan identifikasi risiko secara lebih dini.
Ke depan, Rhemedi menargetkan penguatan teknologi, tata kelola klinis, integrasi data kesehatan multimodal, imaging intelligence, serta layanan Medical Intelligence yang dapat diterapkan secara aman di berbagai lingkungan pelayanan kesehatan.
Pengembangan ini menempatkan AI sebagai instrumen pendukung untuk mentransformasikan data kesehatan menjadi informasi yang lebih terstruktur, membantu tenaga kesehatan bekerja lebih efektif, dan membuka peluang perluasan akses terhadap layanan kesehatan berkualitas di Indonesia. (H-2)
