
BEBERAPA minggu menjelang pemilu sela yang akan menentukan kendali Kongres, hampir seluruh kebutuhan hidup di Amerika Serikat menjadi lebih mahal. Mulai dari cicilan rumah hingga pengisian tangki bahan bakar, biaya yang harus dikeluarkan warga melonjak dibandingkan pekan lalu, menempatkan isu keterjangkauan kembali menjadi sorotan utama politik.
Suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) kini mendekati angka 7%, sementara harga bensin mendekati level tertinggi sejak 2022. Kondisi ini diperparah dengan keputusan Federal Reserve (The Fed) yang menaikkan suku bunga untuk pertama kali dalam tiga tahun terakhir.
“Jika Anda adalah rumah tangga rata-rata di Amerika, Anda mungkin bertanya-tanya, ‘Apa kesalahan saya hingga layak menerima ini?'” ujar Joe Brusuelas, kepala ekonom di RSM.
Paradoks Ekonomi: Pertumbuhan vs Inflasi
Ekonomi AS saat ini menunjukkan wajah ganda. Di satu sisi, pemotongan pajak era Presiden Trump, pengurangan regulasi, dan investasi besar-besaran di sektor AI mendorong pertumbuhan dan investasi. Angka pengangguran tetap rendah di level 4,1% dan kekayaan bersih rumah tangga mencapai rekor Rp2.864.400 triliun (US$186 triliun) pada kuartal kedua tahun ini.
Namun di sisi lain, tarif dagang dan pembangunan pusat data menambah beban inflasi. Ketegangan geopolitik, termasuk konflik dengan Iran, memicu guncangan energi yang menaikkan harga bensin, solar, dan minyak pemanas. Ketua The Fed, Kevin Warsh, menyatakan bahwa kenaikan suku bunga diperlukan untuk menjaga ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun–indikator kritis bagi suku bunga jangka panjang–melampaui 5% pekan ini untuk pertama kali sejak 2023. Pasar berjangka mengindikasikan peluang 50% bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunga lagi pada pertemuan Oktober mendatang, tepat seminggu sebelum hari pemilihan.
Dampak Politik dan Tekanan pada Pemilih
Harga konsumen naik 3,4% secara tahunan pada Agustus, memperpanjang tekanan harga selama lima tahun terakhir. Selama lima bulan berturut-turut, kenaikan upah gagal mengimbangi inflasi, terutama dengan lonjakan tajam harga bensin belakangan ini.
Kondisi itu menjadi krusial dalam persaingan kursi Kongres. David Winston, strategi veteran Partai Republik, menyebutkan bahwa pertanyaan sentral bagi pemilih adalah apakah mereka merasa berada dalam posisi yang lebih baik untuk menangani harga saat ini. “Upah memang naik, tapi tidak cukup bagi pemilih untuk menyimpulkan bahwa mereka lebih sejahtera,” katanya.
Indikator yang menggabungkan tingkat inflasi dan pengangguran ini kini berada di angka 7,5. Angka ini lebih tinggi dibandingkan 6,7 pada Oktober 2024, sesaat sebelum Kamala Harris kalah dari Donald Trump dalam pemilihan presiden.
Kisah dari Lapangan: Solusi yang kian Menipis
Tekanan ekonomi ini dirasakan nyata oleh warga seperti Stacy Hislop, seorang pensiunan di Michigan. Dengan tunjangan Jaminan Sosial sekitar Rp29,2 juta (US$1.900) per bulan, ia terpaksa menarik tabungan dan menjual barang bekas di eBay untuk menutupi kebutuhan. “Solusi saya mulai menghilang,” ungkapnya.
Bahkan konsumen kelas menengah ke atas kini mulai berperilaku seperti pembelanja berpenghasilan rendah. Todd Vasos, CEO Dollar General, mencatat bahwa pelanggan dengan penghasilan Rp1,5 miliar (US$100.000) per tahun pun kini merasa tidak lagi memiliki kelebihan pendapatan.
Di tengah situasi ini, Presiden Trump terus menekan The Fed untuk menurunkan suku bunga guna mengurangi biaya pinjaman, terutama untuk proyek-proyek terkait AI yang mendorong pasar saham. Namun, bagi banyak keluarga di Amerika, pasar saham bukanlah indikator kesejahteraan mereka saat harga kebutuhan pokok terus merangkak naik. (The Wall Street Journal/I-2)
