
DAMPAK perang yang dipimpin Amerika Serikat terhadap Iran diprediksi akan segera menghebat dalam bentuk lonjakan tajam harga bensin dan diesel/solar. Terlepas dari jaminan optimis pemerintahan Trump, para analis memperingatkan bahwa fase baru perang yang berpotensi lebih merusak secara ekonomi mungkin baru saja dimulai.
Berdasarkan data AAA pada Kamis (17/9), rata-rata nasional harga bensin reguler berada di angka US$4,44 (sekitar Rp68.000) per galon dengan rentang harga tertinggi mencapai US$6,09 di California. Sementara itu, harga diesel yang berdampak besar pada sektor logistik terus mencetak rekor dengan rata-rata nasional US$6,40, bahkan menyentuh US$8,35 di California.
Kerusakan Infrastruktur Minyak Arab Saudi
Krisis itu dipicu oleh kerusakan parah pada pipa minyak East-West milik Arab Saudi pekan lalu akibat serangan drone. Pipa sepanjang 745 mil atau sekitar 1.200 km ini merupakan jalur alternatif utama selain Selat Hormuz untuk menghubungkan ladang minyak timur ke terminal ekspor Laut Merah.
Meskipun Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan pipa akan beroperasi kembali dalam hitungan hari, analisis citra satelit menunjukkan kerusakan signifikan pada setidaknya dua stasiun pompa. Andrew Lipow, konsultan infrastruktur minyak, memperkirakan perbaikan akan memakan waktu satu hingga dua bulan karena kompleksitas penggantian pipa dan sistem kelistrikan.
Peringatan Analis: Tom Kloza dari Gulf Oil dan Patrick De Haan dari GasBuddy memperingatkan penaikan harga yang mengejutkan di pompa bensin dalam 48 jam ke depan, terutama di wilayah Midwest dan negara bagian pegunungan AS.
Eskalasi Konflik Regional
Gangguan pasar energi global ini merupakan buntut dari aksi saling balas antara AS dan Iran. Ketegangan meningkat sejak peluncuran Operation Epic Fury pada 28 Februari lalu. Alih-alih mereda, proksi Iran seperti pemberontak Houthi justru meningkatkan serangan terhadap infrastruktur minyak Saudi, termasuk fasilitas Aramco di Yanbu dan Abha.
Brett Erickson, pakar geopolitik dari Seton Hall, menilai Arab Saudi saat ini kesulitan melindungi infrastrukturnya. “Titik bahaya sebenarnya adalah ketika pipa hampir selesai diperbaiki, mereka menyerang kembali. Itulah yang benar-benar mematikan,” ujarnya.
Dampak Ekonomi dan Politik
Hingga saat ini, pengendara di Amerika Serikat diperkirakan telah membayar tambahan biaya bahan bakar sebesar US$107 miliar (sekitar Rp1.647 triliun) sejak perang dimulai. Kondisi ini diperparah dengan masalah internal seperti pemadaman listrik di kilang ExxonMobil Joliet dekat Chicago yang memangkas pasokan 11 juta galon BBM per hari.
Di tingkat kebijakan, muncul usulan larangan ekspor diesel untuk menekan harga domestik. Namun, ekonom seperti Tracy Shuchart memperingatkan bahwa langkah tersebut justru bisa memperburuk krisis energi global karena masalah utamanya terletak pada kapasitas kilang dan kualitas minyak mentah yang terganggu oleh perang.
Dengan cadangan darurat yang mulai menipis dan permintaan minyak Tiongkok yang kembali meningkat, para analis memprediksi tekanan ekonomi ini akan terus berlanjut jauh melampaui pemilihan paruh waktu (midterms) November mendatang. (The Washington Post/I-2)
