Pasokan Minyak Saudi Terancam Habis akibat Serangan Jalur Pipa Utama
Pipa minyak Saudi yang dibom Houthi.(Al Jazeera)

ARAB Saudi terancam kehabisan stok minyak mentah untuk ekspor dalam hitungan hari setelah serangan drone melumpuhkan jalur pipa kritis yang digunakan untuk menghindari Selat Hormuz. Kerajaan tersebut dilaporkan hanya memiliki cadangan minyak mentah yang cukup di pelabuhan Yanbu, Laut Merah, untuk mempertahankan tingkat ekspor saat ini selama kurang lebih lima hingga tujuh hari tanpa ada pasokan baru melalui East-West Pipeline.

Jika jalur pipa itu tetap lumpuh, dunia berisiko kehilangan hingga 4% dari total pasokan minyak global. Analis kebijakan publik energi, David Blackmon, menyatakan bahwa kerusakan pada pipa sepanjang 750 mil milik Saudi Aramco ini tampak jauh lebih parah dibandingkan insiden sebelumnya pada April lalu.

Ancaman terhadap Pasokan Global

Sebelum serangan terjadi, East-West Pipeline mengalirkan sekitar empat juta barel minyak mentah per hari menuju Yanbu. Estimasi industri untuk pemulihan jalur ini bervariasi. Beberapa sumber menyebutkan perbaikan bisa memakan waktu lima hingga enam minggu, sementara yang lain berharap operasi parsial dapat dilanjutkan lebih cepat.

Kondisi itu memperburuk pasar minyak global yang sudah ketat. Berdasarkan laporan pasar minyak bulan September dari International Energy Agency (IEA), pasokan minyak global diproyeksikan turun sebesar 5,7 juta barel per hari pada 2026 atau sekitar 6%.

Dampak Langsung Harga Minyak:

  • Brent Crude melonjak 2,8% menjadi US$107,55 per barel.
  • U.S. West Texas Intermediate (WTI) naik 2,4% menjadi US$102,49 per barel.

Jalur Alternatif yang Terkepung

East-West Pipeline, yang juga dikenal sebagai Petroline, memiliki peran vital sebagai rute pelarian untuk menghindari Selat Hormuz yang rawan konflik. Namun, penutupan jalur ini terjadi saat pasukan Houthi yang bersekutu dengan Iran meningkatkan serangan terhadap fasilitas energi Saudi dan bergerak maju di sepanjang pantai Laut Merah Yaman menuju Selat Bab el-Mandeb.

Data satelit menunjukkan gumpalan asap besar di sepanjang jalur pipa di gurun Saudi antara Madinah dan Mahd adh Dhahab. Serangan ini memaksa Arab Saudi, yang pasokan minyak mentahnya sudah turun ke level terendah dalam tiga dekade (sekitar enam juta barel per hari pada Agustus), berada dalam posisi yang semakin sulit.

Dampak Ekonomi Luas

Krisis energi di Timur Tengah ini mulai dirasakan oleh konsumen global, termasuk di Amerika Serikat. Harga rata-rata nasional untuk diesel melampaui US$6 per galon (sekitar Rp92.000), naik 63% dibandingkan tahun lalu.

Kenaikan biaya bahan bakar ini berdampak langsung pada rantai pasokan pangan dan logistik:

  • Biaya transportasi barang meningkat karena 72,7% tonase kargo domestik AS menggunakan truk.
  • Harga bahan makanan naik rata-rata 2,7% pada Agustus.
  • Pengeluaran petani untuk pupuk diproyeksikan meningkat sebesar US$5,3 miliar pada tahun 2026 karena gas alam merupakan input utama produksi pupuk.

IEA menggambarkan aliran melalui Selat Hormuz saat ini sangat terhambat. Ekspor diesel dan minyak dari Teluk hanya mencapai seperempat dari tingkat sebelum perang. Pemulihan penuh pasokan minyak Timur Tengah kini diperkirakan baru akan terjadi pada tahun 2027. (Daily Caller/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *