
PRESIDEN Rusia Vladimir Putin memberikan penilaian suram terhadap hubungan Rusia dengan Barat dengan memperingatkan pemerintah negara-negara Eropa untuk tidak mengerahkan pasukan apa pun, termasuk pasukan penjaga perdamaian, ke Ukraina. Putin menegaskan bahwa langkah tersebut akan berarti perang.
“Mereka berbicara tentang mempertimbangkan pengiriman pasukan ke wilayah Ukraina,” ujar Putin setelah partisipasinya dalam KTT BRICS di New Delhi, Jumat (11/9). “Ini akan berarti perang dengan Rusia.”
Putin mengecam kondisi yang disebutnya sebagai kesalahan sistemik yang dilakukan oleh lingkaran globalis Barat. Ia bersikeras bahwa Rusia tidak menimbulkan bahaya bagi negara-negara Eropa, yang menurutnya hanya mencoba menakut-nakuti populasi mereka dengan ancaman mitos Rusia.
Lebih lanjut, Putin menyalahkan Barat atas perang di Ukraina dengan upaya perluasan NATO. Ia menuduh Barat secara langsung mendukung separatisme di Kaukasus dan berusaha memecah belah Rusia. “Krisis di Ukraina saat ini juga dipicu oleh mereka,” tambahnya.
Eskalasi Serangan Drone dan Reaksi Eropa
Pernyataan keras Putin dibarengi dengan serangan drone Rusia yang menghantam infrastruktur kereta api penumpang di Ukraina barat. Serangan ini terjadi saat sejumlah diplomat dan pejabat Barat, termasuk mantan Direktur CIA David Petraeus serta mantan PM Inggris Boris Johnson, sedang meninggalkan negara itu setelah menghadiri konferensi Yalta European Strategy (YES) di Kyiv.
Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius menyebut serangan drone tersebut sebagai eskalasi terukur untuk memicu ketakutan di Eropa. “Sangat penting bagi kita untuk tetap berkepala dingin, tidak membiarkan diri kita terprovokasi, tetapi di saat yang sama tidak meninggalkan keraguan bahwa kita mampu membela diri,” kata Pistorius.
Perdana Menteri Polandia Donald Tusk juga memperingatkan bahwa minggu-minggu mendatang akan menjadi waktu tindakan yang sangat intensif dari pihak Rusia. Ia tidak menutup kemungkinan bahwa eskalasi ini akan berdampak pada wilayah Polandia.
Upaya Negosiasi dan Kendala Teritorial
Di sisi lain, pemerintahan Trump melalui utusan kepresidenan Steve Witkoff dan Jared Kushner memperbarui upaya untuk memulai kembali negosiasi perdamaian. Kushner mengungkapkan bahwa Washington menyusun sebagian besar perjanjian damai, tetapi terhambat oleh keengganan Ukraina untuk memberikan konsesi teritorial.
Saat ini, Rusia menduduki sekitar seperlima wilayah kedaulatan Ukraina. Putin menuntut Ukraina menyerahkan seluruh wilayah Donbas timur. Sebaliknya, Ukraina menegaskan bahwa menyerahkan tanah yang gagal direbut Rusia secara militer adalah hal yang tidak mungkin dilakukan.
- Presiden Zelensky menyatakan kesediaan bertemu Putin di KTT G20 di Florida pada pertengahan Desember.
- Kremlin menolak pertemuan tersebut dan menyatakan Putin hanya akan bertemu Zelensky di Moskow.
- Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengisyaratkan pembicaraan mungkin berlanjut pada Oktober setelah pemilihan parlemen Rusia.
Wacana pengerahan pasukan penjaga perdamaian Eropa sebelumnya dibahas sebagai salah satu cara untuk memberikan jaminan keamanan bagi Ukraina. Inggris dan Prancis sempat menandatangani deklarasi niat untuk mengerahkan pasukan jika kesepakatan damai tercapai. Namun, seiring macetnya negosiasi dan fokus Washington yang terbagi ke konflik lain, usulan tersebut kini meredup.
Tatiana Stanovaya, peneliti senior di Carnegie Russia Eurasia Center, menilai bahwa peran Eropa yang meningkat dalam mendukung kemampuan serangan Ukraina kini menjadi masalah strategis utama bagi Moskow, bahkan melampaui Amerika Serikat dan NATO dalam beberapa aspek. (The Washington Post/I-2)
